If I had all the tea in China, I couldn’t buy a better friend than you
Yeah..my fingers still wanna dance on the tuts of this keyboard.. Friend? Who are you so dare calling me as your friend? Sister? You calling me sister and bag me some favour.. how dare you are, you just girls from other’s planet outside the earth.. just shit for bothering me!!!
All of my blues coming arroud me, suddenly i really really really want to meet a girl who inspiring me, last month. She called Eva.
My phone ringing…oh, she called me…kebetulan banget saat aku ingin menemuinya, dia menelponku. ‘iya Mbak..aku ingin kontrol lagi mataku sering perih, anterin yo Mbak..”
“ ketemu di RS Dr. Soetomo aja ya Va..”
“jangan lama-lama lho, aku takut sendirian”
“Ya..aku harus naik lyn WB yang mumet dan muter-muter lewat kertajaya indah lalu ke Unair baru nyampe ke rumah sakit di karangmenjangan itu. Nti klo ada apa-apa telponno yo!”
“iyo Mbak..”
Setengah jam berlalu tapi kendaraan yang kutumpangi belum juga nyampe di rumah sakit.
“Mbak kok nggak naik taxi saja, pelayanannya sampai jam 1 saja lho”
“bentar Va.. Mbak bentar lagi nyampe kok! Kamu langsung saja daftar nanti Mbak akan menemui dokter Mila saja untuk nanyain keadaanmu”
“Ah Mbak… cepetan datang pokoknya.”
Klik..telpon pun ditutup dari seberang. Mungkin koinnya habis.
Sepuluh menit kemudian aku sudah sampai ke rumah sakit. Aku langsung menuju pelayanan bagian mata dan aku pun bertanya ke customer service. Pasien bernama Eva mufidah sudah masuk dan sedang diperiksa ya..saya kakaknya..
“Eva.. oh masuk saja Mbak, dia barusan masuk dan diperiksa di dalam.”
“Mbak..sini” teriakan Eva mengagetkanku.
Baru kali ini aku ngeliat ada anak yang secara fisik tidak sempurna dan ceria.
“kamu dah kenal tho Va dengan dokter-dokter yang ada di sini?”
“ya iya la Mbak..sejak aku dibawa Mbak Wido, teman Mbak itu untuk operasi mata, setiap minggu harus kontrol dan dibersihkan bola mata palsunya dan biasanya aku nebus obat sendiri..”
“kamu sekarang manja ya..kalau biasa nebus obat sendiri mengapa tadi telpon Mbak untuk kesini..”
“ya..Mbak.. aku ngrepotkan Mbak ya?” sambil mengedipkan matanya lalu menunduk.
“Hei..itu namamu dipanggil untuk dibawa ke lab, pembersihan bola mata dari kuman..”
Ups..apa tadi kata-kataku terlalu pedas ya? Untuk anak seusia dia 14 tahun masih kelas 5SD, berkulit cokelat, berambut keriting yang kemerah-merahan karena tidak terlalu terurus dan tidak terlalu tinggi, ditinggal ibunya mati dan bapaknya entah kemana lalu dipungut oleh seorang janda penjual pentol (aku selalu diberinya 5 buah pentol saat ke kontrakannya) udah miskin masih saja mau memberi orang lain, jadi orang kok baik banget sih kamu Bok!
Mbak… tepukan tangan di pundakku mengagetkanku.
Dokter Mila… yaapa si Eva? Tanyaku
Kacamatanya harus diganti karena kosmetik istilahnya memperindah saja. Bola mata palsunya yang kanan biar terlihat lebih kecil. Kamu bisa membelinya sendiri kapan-kapan. Aku buatkan resepnya..
Oke..jawabku sambil tersenyum.
“Mbak..kita nebus obat”seru Eva setelah keluar dari ruang hygien
Ayo.. ya obatnya tidak ada yang generik jadi belinya di apotik dekat rumah saja. Kutanyakan apa dia masih ada uang? Dia hanya mengangguk. Resep kacamatanya aku bawa dulu minggu depan kita ke optik untuk beli. Kuingat-ingat jumlah uang di tabunganku masih ada berapa? Sepertinya harus minta ke Mbak Wido lagi.. ya mahasiswa, kerjaan freelance lagi.
Yeah..nor politician either activist, so just do your best for ur country, even just a thought will help indonesia grew up better in the future…