Kalau aku bilang ‘sebaiknya mati saja kalau hidup kamu pake untuk ngeluh kesana kemari, nyalahkan pemerintahlah dan nyalahkan semua orang di dunia ini yang membuat keadilan tidak terasa di bumi Indonesia.. kamu warga Indonesia kan? Mengapa bisamu mencaci sana sini, what the hell can you do for your nation? Negara ini butuh jiwa-jiwa baru yang tangguh beserta seperangkat kemampuan intelektual yang bukan saja pandai mencaci, right? Atau perlukah membentuk gerakan underground lalu bersama-sama membuat kudeta yang revolusioner, ya ciptakan saja revolusi semisal petani atau nelayan karena yang melakukan orang Indonesia yang penduduknya sebagian besar berpenghasilan itu.’
Yang mana harus dibenahi dulu? Ya menurutku cara berpikrmu dan berpikir kita semua dulu. Dalam sejarah perpolitikan beberapa periode kepemimpinan, kalau kita tinjau bersama ada persamaan karakter : pleasure their self, mulai dari Soekarno yang katanya menganut paham nasionalis komunis yang sosialis pula dalam kepemimpinan dan karier politiknya banyak terjadi kejahatan HAM, apalagi yang kedua Soeharto..yang ini dedengkotnya korupsi kolusi dan nepotisme militerisme dan isme-isme lainnya yang merugikan dan membodohi rakyatnya..lalu Mr. Habibie yang cocoknya sebagai ilmuwan tapi maksa menerima tanggung jawab jadi presiden hasilnya Timor-timor lepas ya disintegrasi dari RI, lalu Gus Dur yang suka plesiran dan Megawati yang hanya mengandalkan sosok kharismatik Bapaknya selanjutnya SBY yang modelnya seperti Soeharto junior. Yeah itu kenyataanya.. masyarakat Indonesia mampunya memilih pemimpin semacam itu yang mereka anggap ideal.
Walaupun the election menggunakan cara pilih langsung dan memperbolehkan calon independen tapi tetap saja dalam praktiknya siapa yang terpilih menjadi presiden adalah dia yang didukung oleh partai politik dengan anggota terbesar, padahal yang kita tahu jenis partai yang tumbuh bak jamur itu belum menghasilkan kerja politik yang krusial bagi tumbuh kembangnya bangsa Indonesia ini.
Just say shit! Saat ngeliat banyak partai mengatasnamakan partai Islam karena sebagian besar penduduk negeri ini muslim tapi yang terjadi konflik dalam partai mengenai siapa yang berhak memimpin dan punya kuasa disebut yang dipertuan agung, demikian mungkin lebih menjadi issue utama. Lalu penduduk dalam negeri banyak yang tidak bisa sekolah, banyak ibu hamil yang meninggal saat melahirkan, banyak pengangguran ya pada kenyataannya banyak hal tidak menyenangkan terjadi pada rakyat Indonesia tidak jadi fokus lagi. (apa gunanya partai-partai dan janjinya)
Coba cara berpikir tiap pribadi diperbaiki.. melakukan yang terbaik untuk bangsa. Kalau jadi presiden ya jangan banyak tingkah, selalu evaluasi tiap hari padahal punya pembantu yang excellent lho, semua orang yang pandai para profesor termasuk yang terhormat Prof Nuh juga menjadi pembantunya tapi entahlah apa kerja nyata yang telah dilakukannya sehingga Indonesia selalu gonjang-ganjing ekonomi dan politiknya. Apanya yang beres.. termasuk yang membuat miris adalah tayangan TV yang tidak lagi sehat, gimana ini Prof Nuh.. negara dibayar berapa sih membiarkan siaran TV tak bermutu bisa ditayangkan pada saat prime time!
Akhirnya aku juga termasuk orang yang harusnya mati saja! Mampunya hanya mengeluh dan mengumpat.. tapi aku on my way.. sedikit ikut menghidupkan budaya literasi ya dengan menjadi penulis, kadang kumpul dengan para anak-anak yang terpinggirkan untuk belajar bersama dan diskusi bersama tentang tema apa saja yang ingin mereka ketahui.
Dalam komunikasi politik antara komunikator politik (politisi, profesional dan aktivis), pesan (pada permainan bahasa utk kepentingan politik) dan media (baik bersifat interpersonal, organisasional maupun massa) berhubungan satu sama lain, itu jelas sekali kan! dan kemundurannya saat ini para politikus berasal dari publik figure/artis yang sementara waktu sudah mempunyai massa/fans dan dia bukan dari kalangan komunikator politik yang tersebut di atas sehingga pantas dipertanyakan, mau dibawa kemana lagi indonesia jika nahkodanya hanya menang pemilihan langsung karena popularitasnya?
Dan menurutku media yang sangat berpengaruh besar yang bisa mempropaganda yang persuasif masyarakat adalah TV karena manusia mempunyai kecenderungan lebih suka melihat bentuk audio visual, jadi mereka tidak perlu membayangkan dan berimajinasi seperti proses saat membaca buku, sehingga dampak secara kesehatan, locus dalam otaknya tidak akan bertambah, karena sel-sel diotaknya banyak yang aus akhirnya pembodohan massal generasi indonesia. Mungkin ada pengecualian jika tontonannya itu dibuat seselektif mungkin, muatan pesan moral dari tayangan adalah standard utama layak ditayangkannya setiap sinetron. Tapi, uang itu enak.. apalagi yang harus dilakukan, kayae ini tugas teman-teman di pertelevisian, setidaknya sayangilah generasi penerus bangsa ini. Berpikir donk..jangan kerja asal dapat duit lalu tidak memperhatikan idealisme! Atau jangan-jangan mereka tidak tahu kalau hasil tayangan-tayangan itu sangat merusak penontonnya.