Joey’s identity

June 7th, 2008

obrolan dengan shifu docu

Posted by joeyleung64 in Film

23 maret 2008

“Ce.. ke rumahku ya.. dan bawa bukumu untuk kubawa ke Hong Kong..” undang temanku, setelah beberapa kali aku sms mengatakan kalau bukuku diterbitkan. Akhirnya aku ke Ponorogo, sendirian.. senang bisa naik bis dan seperti biasa aku menikmati pemadangan di luar jendela, makanya aku lebih menyukai kendaraan dengan kaca bening karena kepalaku sedikit pusing kalau kacanya hitam.

Sudah beberapa kali aku diundang temanku yang pulang dari Hong Kong untuk berkunjung dan sebelum pulang mereka sering menanyakan “pesen apa Ce?”

hm.. yau laimat pei ngo ka?—ada kado untukku. Yup, yang pasti aku sangat suka sweater yang dari Hong Kong punya, aku mengoleksinya dengan warna2 muda dan cerah, mulai dari putih, krem, kuning muda, biru muda, orange muda dan aku masih belum punya yang hitam, akhirnya dapat deh…masih ada bandrolnya lagi.. mungkin karena badanku yang lebih menyukai udara hangat bahkan di surabaya yang terkenal panas aku masih bisa pake sweater-ku yang kebanyakan tipis sih, benangnya pun bukan yang jenis panas.

“Eh Ce, kamu dah buat desain pelatihan lagi? Teman-teman di Hong Kong butuh pelatihan seperti yang kamu kirimkan..” ucapnya suatu kali.

Aku pernah mengirimkan desain pelatihan dengan judul berpikir kreatif, hua… tapi aku udah lupa isinya gimana materi dan game-nya m keitak co lah, mungkin belajar lagi kale.. tapi buat desain kan tidak bisa dalam waktu singkat, aku harus hunting materi di perpus dan ngenet lalu mencari game yang sesuai refleksinya. Dan tentunya bahasa yang kupakai harus bisa dipahami audience nantinya.

“Ce.. nti kalau kamu tertarik filmkan aja desaku ini… di sini seperti bedol desa, hampir tiap keluarga ada anggotanya yang pergi ke HK, lalu selama tiga hari saat aku pulang gini harus open house memberikan titipan dan menyampaikan pesan dari keluarganya yang di HK, kami pun punya arisan bulanan yang mempertemukan kami di sana bla.. bla..

“ Hm.. teman-temanku udah film minded, setiap ketemu tanya mau buat film apa lagi, Hah..surprise, aku memang berniat buat film lagi tapi urusannya walaupun bukan hal yang rumit tapi juga tidak sesimple yang dibayangkan.

“kamu tuh jangan berpikir bahwa buat film menghabiskan biaya besar bla.. bla..” kata Pak Tonny Trimarsanto saat bertemu di Screendocs surabaya. Ya.. aku harus membuktikannya, mungkin pengalaman di eagle awards beda.. biaya pembuatan cukup besar karena memang workshop-nya sangat lux kelas VVIP deh.. tutornya udah kelas festival Internasional lah.. jadi kalau berpatokan darinya gak jadi-jadi produksi lah.

Saat bertemu Pak Lianto Luseno di kafe tenda taman Bungkul beberapa waktu yang lalu saat beliau shooting di Surabaya, kuungkapkan kalau dana adalah kendala utama untuk produksi lagi.

“Ya Udah sekarang aku tantang kamu, kusediakan uang dan sekarang juga produksi, mumpung disini juga ada Shamir dan kamera, kamu sudah punya shooting script.

” Hua… “makanya inilah yang jadi penyakit para pemula, gak kamu saja tapi mahasiswaku juga seperti itu, ngeluh saja.. tapi tidak mempersiapkan, riset yang mendalam dan buat floor plan, jadi siap diproduksi kapan saja.”

Yup, nice advise..para Shifu yang asyik buat diajak sharing ide dan pengalaman mereka. Mengapa aku mengikuti beberapa acara yang mendatangkan para tutor eagle yang kukenal itu di beberapa tempat?

Ya, karena aku menyukai dunia kreatif dari seorang film maker.. karena ilmu yang kudapat baru dari workshop eagle, semoga ada workshop lain yang bisa kuikuti..amien, dan sensasi yang kuterima saat penonton mengapresiasi film dokumenter yang timku buat bener2 menimbulkan efek ‘addicted’ untuk berkarya lagi.

Lebih dari itu menurut Shifu Shamir saat beliau kuliah di IKJ dan diberitahu oleh dosennya yang empunya dokumenter “membuat film dokumenter itu bisa dianalogikan, prosesnya yaitu riset sampai produksi dan post produksi adalah seperti ibu yang sedang hamil—mengandung anaknya, saat ditontonkan filmmu itu laksana anak yang kamu berikan pada mereka—anak ibarat pesan yang diberikan oleh seorang sutradara dengan sudut pandangnya.

Nah setelah selesai nonton, penonton akan membawa anak2 itu tentunya dalam pemikirannya mau diapakan terserah, mau dibesarkan dan tumbuh atau membunuhnya.

Sebagai filmmaker kamu dikatakan berhasil kalau anak-anak itu tumbuh besar hingga dewasa dan menghasilkan pemikiran bahkan perilaku seperti yang kamu pesankan di film-mu.”

Senang banget filmku diikutkan di acara screendocs traveling 2008, distribusi yang bagus mulai di Denpasar, Makassar, Medan, Padang, Jember, Surabaya dan Solo. Sedang bersamaan dengan bedah bukuku, setelah izin dari eagle dan in docs diizinkan screening di 8 tempat, Jombang, Surabaya, Solo dan Jogja. Dan bagiku akan tepat sasaran kalau bisa para helper melihatnya juga, mungkin perlu dibawa ke HK, semoga segera datang waktunya, amien.

“Ce.. kamu gak puter film mu ke HK, apa boleh dicopy dan ditonton di HK, belinya dimana Ce..” Hm.. gak dijual filmnya, ini produk non-komersil, juga tidak boleh dicopy, hak siar dan edukasi masih dipegang metrotv dan in-docs, mereka punya jaringan luas dan distribusinya cukup bagus. Hal yang selalu menyulitkan para pemula selain dana juga distribusi, tapi kalau tidak dimulai sekarang kapan lagi. Kita yang berhak memfilmkan tanah air kita dengan sudut pandang sebagai anak negeri yang ingin memajukan negerinya. Cie.. cinta tanah air bener kedengarannya. Ngo hou cungyi cou yannai yan, ngo seik cou noiyan thungmai anything what i wanna be.

June 7th, 2008

episode yang lewat

Posted by joeyleung64 in Uncategorized

Di ruang yang hampir sama delapan tahun yang lalu, aku terpuruk. Menghadapi hidup yang tidak pasti, dunia gelap bahkan seakan keputusasaan telah berkawan dengan pemikiran ini.

Apa memang jalan hidupku akan berakhir di sudut surabaya itu? Sekarang senyum itu kian mengembang… aku sudah melewatinya… saat aku bersama dengan para calon pekerja di salah satu BLK, aku membagi dengan mereka… ternyata aku pernah mengalami hal yang sama seperti yang mereka alami sekarang… Ada yang bilang kalau aku terlalu mujur dalam hidup ini… bertemu dengan orang-orang yang baik saja.. aku tak hendak mengumbar keburukanku ataupun keburukan orang yang ada di dekatku, karena kalau Allah sudah menutup keburukan itu, biarlah menjadi rahasia kita dengan Nya…

yup, kalo yang terlihat saat ini, saat semua perlahan menjadi baik, saat aku telah menyelesaikan skripsiku… saat aku mulai belajar berkarya… saat mimpiku menjadi nyata satu per satu… dan memang itulah yang kuharapkan terjadi di diriku… Aku sangat menyukai saat naik bis pulang ke rumahku dan melewati pabrik tempatku dulu bekerja… dan aku pun tersenyum, aku pernah mengalaminya menjadi bagian darinya…berangkat pagi dan sarapan di warung dekat pabrik lalu makan siang soto di depan pabrik dan bekerja seperti biasanya lalu membeli setumpuk roti kasur yang berisi meses ataupun coklat untuk kumakan di malam hari.

Aku senang bisa mengalami episode itu… Saat kulihat fotoku memakai toga… dan akupun tersenyum,…ternyata kamu bisa juga melewatinya, selesai juga episode kuliah sarjanamu… kupikir dulu sebelum kuliah, dunia perkuliahan itu penuh dengan belajar dan tugas.. lalu pegangnya buku tebal-tebal text book berbahasa asing, dan akupun sudah menyiapkan tas, bolpen, disket sekotak lalu file buat kuliah… jauh-jauh hari akupun sudah menyiapkan baju-baju yang nantinya kupakai kuliah…karena menurutku kuliah itu seperti sebuah Perjamuan Suci—majelis menuntut ilmu jadi semuanya dipersiapkan dengan baik.

Di setiap kuliah selalu kucantumkan ‘lecture 1… lecture 2 etc..” sebagai tanda aku mengikutinya dengan rajin. Lalu tulisanku itu kukumpulkan, aku menganggapnya sebagai buku suci yang harus dijaga kelestariannya.

Saat tabunganku habis, aku pun merasa akankah Tuhan mengirimkan malaikatnya untuk membantuku, bukankah dunia ini milikNya… maka sangatlah mudah untuk mempertemukanku dengan penolongku… ah, doa itu hanya berjarak beberapa bulan dan terjawab, aku bertemu dengan Mbak Upik… setelah kukirimkan proposal beasiswa, di rekeningku sudah muncul rangkaian digit yang bisa kupakai untuk membayar… dan akupun berusaha uang yang diberikan itu bisa kubuat modal kerja sehingga di semester yang akan datang aku tak lagi mengirimkan proposal dana lagi… aku menjadi penjahit baju… awalnya kubelikan mesin jahit di pasar turi, seharga 400 rb… aku tidak pernah les secara resmi tapi aku pernah belajar ekskul tata busana selama tiga tahun saat aku di smp dulu. Akupun bilang sama teman-teman kuliahku barangkali ada yang butuh menjahitkan bajunya. Ada beberapa temanku yang dengan sengaja membeli bahan untuk dijahitkan kepadaku. Saat itu temanku yang mau pindah ke jakarta memesan 4 rok panjang untuk dipakai ke kantor, bahannya mahal lagi.

Setelah membeli beberapa peralatan menjahit seperti meteran, benang dan jarum lalu kuukur lingkar pinggang, lingkar panggul serta panjang rok yang diinginkan. Setelahnya akupun membuat pola roknya. Lalu memotong bahan-bahan itu. Menjahit pesanan pertama ini bukannya aku mendapat untung tapi karena jarak antara tempat kosku dengan tempat ngobras sangat jauh jadi aku yang sudah capek ya naik becak saja ke sana dan jatuhnya mahal banget. Akupun mencari cara agar bisa menjangkau tempat ngobras dengan cepat aku minta dikirimi sepeda mini. Lalu ada lagi teman yang menjahitkan bajunya sampai enam potong, tapi yang diambil baru empat potong, walhasil sisanya masih diaku ha ha…lama-lama jahitanku laris mulai dari baju ibu hamil sampai blues santai ataupun kemeja perempuan atau sekedar permak…

tibalah suatu masa dimana aku kecapekan teramat capek yup terkena diare lalu typhus dan harus opname… aku pun berhenti, nota-nota pesanan itupun kulihat lagi, omsetnya besar juga dan lumayan buat makan sehari-hari anak kos. Tapi badanku tak sekuat jiwaku, harus istirahat.. mesin jahitku akhirnya kupulangkan ke kampung, karena menjahitnya tidak boleh memakai dinamo dan harus manual sedangkan perutku jadi semakin sakit karenanya.

Kesehatan akhirnya menjadi prioritas utama. Akupun beralih profesi menjadi pengajar bahasa inggris anak-anak sd dan tk itu dan berangkat ke tempat kerja memakai sepeda mini, lumayan lah untuk bisa bantu ongkos makan sehari-hari, dan kalau ada pengetesan besar jika biro tempatku magang dapat proyek maka akan enak lagi bisa untuk bayar kosku…kerja ngetes 10 anak dapat 500rb, lumayan buanget!!

Sambil tersenyum kupandangi lagi fotoku saat wisuda itu..hm… aku juga pernah menjadi mahasiswa sama seperti yang lainnya, bukan sekedar intelektual salon yang menang di idealisme saja, dan aku yakin bukanlah termasuk golongan bachelor munafik yang hanya mampu berteriak tapi no action, menganggap hanya caranya saja yang benar sebagai sosok mahasiswa…kalu tidak menjadi aktivis berarti bukan mahasiswa, sebuah pemikiran sempit!!

Aku punya cara sendiri yang kupandang efektif menyalurkan aspirasiku sebagai warga negara juga menunjukkan eksistensiku… Di setiap doa, aku meminta agar Tuhan menjadikanku alatNya wujud kebesaranNya, agar usia karyaku menjadi sangat panjang kalau bisa masuk kesejarahan ha ha, ketawa ya?!

Dan Tuhan lebih tahu lewat jalan mana. Walau masih belum masuk kesejarahan… namaku telah terukir di sebuah batu cokelat yang dibungkus kotak dari kayu jati… dengan kepala burung elang sebagai lambang kebebasanku dan ke-independent-anku, prasasti yang diberikan oleh eagle award, ha ha.. yang itu namanya plakat bo’ bukan prasasti?! Aku senyum melihatnya, karena aku pernah menjadi bagian darinya…

Aku pun tersenyum saat bintang di langit masih bersinar… bintang yang sama kulihat di langit di belahan bumi lain.. bintang yang membuatku menunjuknya sebagai bintangku… mungkin nanti akan ada satu bintang yang belum punya nama dan bisa kuminta sebagai bintangku… ha ha yang ini kaya di film banget?! Masih banyak senyum lain yang harusnya kukumpulkan dalan jurnal kebahagiaanku, ini hanya senyum saat aku membaginya dengan diriku sendiri… senyum yang kurajut dengan teman masih menunggu waktu untukku bisa menuliskannya… (26 Mei 2008)

June 7th, 2008

apa yang kau cari dalam hidup?

Posted by joeyleung64 in Uncategorized

Saat ini dengan klisenya kujawab “bahagia”…

Saat kecil dulu, bahagia kuanggap sebagai keberhasilanku mendapatkan rangking pertama di setiap catur wulan. Dan akhirnya aku mendapatkan sebagai the one saat smp, aku selalu berada diurutan pertama yup…tapi aku tidak menikmatinya, aku hanya berjuang mendapatkannya dan tak tahu apa gunanya semua itu saat aku harus berbenturan dengan biaya hidup yang kian meninggi sehingga aku tak bisa mengikuti beberapa macam les lagi saat sma yang bisa membuatku bahagia karena menjadi the one.

Kebahagiaanku buyar dan terancam tidak bahagia karena memang benar-benar aku tak bisa sekolah lagi dan setelah kuketahui lagi, orang yang sekolah tinggi-tinggi pun kesulitan mencari pekerjaan…walah…apa yang kuinginkan dalam hidupku, selain kebahagiaan. Dan jika sulit begini untuk sekolah lalu apalagi yang harus kulakukan?

Setiap hari, sepertinya tak ada hari selain berpikir, sebaiknya apa yang harus aku lakukan biar aku bisa menjadi bahagia dengan menjadi orang yang terdidik. Duniaku menjadi lebih luas, aku mempunyai teman yang banyak… dan tentu saja hidupku dalam kelayakan.

Dan akupun mencoba beberapa dunia kerja yang kadang sampai sekarang aku menjadi amazing sama keputusanku saat itu “kok bisa?” aku mempunyai idealisme yang tinggi bahkan terlihat perfeksionis terhadap setiap jengkal hidupku sehingga aku menginginkan sebuah kerja maksimal penuh kesempurnaan dan pemanfaatan semaksimal mungkin apa yang kumiliki.

Gebrakan yang ada di hidupku adalah saat menjadi helper di hongkong, ah… cerita menjadi tkw itu biasa saja karena bagi sebagian penduduk negeri ini menjadikannya sebagai biasa dan tak ada spesialnya, helper menjadi bagian masyarakat yang terpinggirkan dan aku merasakannya.

Itu terbukti dengan ketidakberanianku untuk menyatakan profesiku yang satu ini, tak ada kebanggaan menjadi seorang mantan helper, itu berlaku di indonesia, karena kultur masyarakatnya memang demikian, kebanyakan tradisi  kerajaan di jawa yang membedakan antara kaum priyayi dan babu begitu berjarak, dan bukan menganggap sebagai partner, makanya kita bisa liat banyak cerita di film-film indonesia yang ide ceritanya seperti romeo and juliet, perbedaan kasta yang menghalangi cinta dan membedakan dengan film box office amerika yang lebih universal dan lebih banyak ide yang diangkat, kalaupun ide cerita tentang cinta maka konsep kekinian kultur amerika yang diperlihatkan.

Memang apa untungnya menjadi tkw/helper, selain uang? Kalau uang saja mungkin tidak akan bisa bertahan begitu lama 2×365 hari kalau tidak karena perfeksionis telah kuidap begitu akut maka semuanya terlewati.. kuinginkan hidup begitu perfect, dengan keluarga hubungan harus baik, dengan teman hubungan harus baik dan dengan Tuhan hubungan harus baik, pokoke perfect abis!

Selamat datang di realita my dearest xxx! Ha ha.. kesempurnaan itu memang milik Tuhan, bahkan hubungan dengan diriku sendiri masih harus selalu kuperbaiki, aku masih harus mengenal diriku lebih jauh dan untuk membina hubungan baik dengan diluar diriku aku harus mengenalku dan mencintai diriku dulu…

Dan kepelikan… kerumitan hidup harus segera disederhanakan dan itu kumulai dengan menengok cara berpikirku yang kadang masih perfectionist. Perfeksionis itu hanya ada dalam tataran ide, jadi dalam dunia nyata tidak bisa dilakukan karena idealisme itu harus menyesuaikan dengan realita..dan tidak bisa sebaliknya. Bukankah untuk urusan dunia kita yang lebih tahu.. jadi ya, fleksibel aja.

Ya…saat aku dulu menjadi juara kelas semuanya karena aku ingin menyenangkan dan membuat bangga keluarga, saat aku terdaftar di sekolah favorit juga karena aku ingin membuat bangga keluarga, maka saat aku menjadi helper aku terbebani dengan image tkw di luar negeri dan aku takut akan merusak nama baik keluarga. Tapi  saat kuliah aku dah berani membuat keputusan mengambil jurusan yang tidak ada campur tangan keluarga, dan bahkan untuk urusan kerjaan juga semuanya kuputuskan sendiri, karena kutahu mana kerjaan yang bisa membuatku bahagia, nyaman dan menikmati waktu demi waktu sampai jam kerja usai. Berada dibalik komputer membuat konsep yang diperlukan bosku..ha..masih belum cukup mampu menjadi enterpreneur sih…

Jadi bahagia itu akan kuuraikan lagi sebagai penerimaan diri apa adanya dan dengan usaha maksimal menjalani hidup dengan kemanfaatan bagi diri sendiri, penuh cinta pada diri sendiri itu sebagai awalnya… kubuatkan rumus ini karena sudah terlalu lama aku hanya memikirkan kebahagiaan orang lain dan menyia-nyiakan diriku, padahal yang bertanggung jawab untuk menyenangkan diri adalah kita sendiri. Sekarang aku mulai manja pada diriku senidri ha ha…

June 7th, 2008

Me, Friends and Kids

Posted by joeyleung64 in friendship

‘hari gini tidak punya blogger… hm aja deh!’kata si Sofia saat screendocs traveling sedikit mengusikku..

‘okay, aku akan sedikit meluangkan waktu untuk nulis di bloggerq dan tentunya harus ke warnet dulu…dan buat dulu karena aku gak punya…’

‘Mbak, kamu punya blogs? Bla…bla…’

‘punya tapi gak up date lagi’

‘jangan jadi penulis yang katrok dong!’

Hua… hua… Ya wes, ne..lagi ada laptop nganggur (punyae my kost-mate), jadi kupakai sajalah..

‘eh.nik, emang kapan loe ke hong kong-nya? Di usia berapa?’

Ternyata masih ada saja yang menanyakan keberangkatanku ke HK, apa karena liat badanku yang kecil dan tampangku yang sok imut hua… selalu bilangnya gak nyangka lho, loe dengan kondisi seperti ini pernah jadi tkw ke luar negeri.

‘loe ngambil jurusan apa? Oh, psikologi… belagu amat ngambil jurusan itu’kata mbak Aline, editor dari semarang itu!

‘oh ya? Emang belagu?’ sambil kupasang wajah yang tidak mengerti dan mengernyitkan dahiku.

‘loe gimana bisa tertarik ikutan eagle.. masuk finalis lagi’

‘waduh bos… kalau kujelaskan panjang dan lebar kayanya gak seru deh!’ Menurutku kalau jurusan pembicaraan kita mengarah pada pendidikan apa yang lebih bisa mengakomodir eksistensiku di kemudian hari sehubungan dengan predikat alumni eagle mungkin psikologi gak nyambung dan bahkan kami di kampus sudah dididik untuk nantinya melanjutkan pendidikan profesi yang menjadikan kami seorang psikolog.

Pada awalnya, dulu alasanku mengambil psikologi karena aku ingin membuat novel-novel berbasis pendidikan yang kuambil. Tapi kemudian di perjalanannya karena tulisan-tulisanku ‘garing’ alias belum bisa melibatkan emosi pembaca dan saat kuliah aku juga dituntut untuk meras otak gimana bisa survive.

25 juta untuk bertahan di surabaya mengambil kuliah di kampus swasta wah…ya tidak cukup bos! Ini yang sering aku bilang saat beberapa temanku yang di HK berencana mau kuliah, jangan nekat kayak aku dulu.. ya jaga-jaga itu penting, setidaknya di tabungan ada 50 juta dah posisi aman, dan di HK kan ada LP3I dan Pikti ITS ikut saja kursus itu setahun ngambil desain grafis yang menurutku jurusan ini lebih mudah untuk nyari kerja selama kuliah.

25 juta bisa bertahan selama 4 semester saja. Boros?! Gak lah… mulai ngontrak, biaya hidup, biaya kuliah dan aku ikutan bisnis hm…yg ini hasilnya kacau : ikutan multi level marketing—kan pengeluaran tambah banyak tuh, mulai bayar uang masuk untuk pertemuan yang biasa diadakan di garden palace hotel bo’! mau2nya ya sampe rela ninggalin beberapa mata kuliah, berjalan tiga bulan kemudian aku lepaskan karena aku kembali berpikir…koq bisnis sih, dulu waktu di HK kan pingin nuntut ilmu lalu jadi penulis dan ikhlaskan sajalah modal yang telah dikeluarkan gak perlu nyari member lagi…

Dan Tuhan membuka jalanNya untukku… Aku bisa masuk magang di biro konsultasi psikologi kampusku. Sebenarnya aku malas banget ngantor lalu jaga di sana…tapi yang aku suka saat dapat proyek dan harus menjadi tester di psikotes.

Sering dapat tender dari lingkungan ngetes pejabat eselon… aku jadi tahu, gimana sih intelektual mereka. Dan kadang aku bilang pada diriku sendiri, oh segitu saja tho! Kok bisa diterima ya? Kalau yang muda-muda seperti aku nih masuk kesana mungkin indonesia akan lebih baik, karena aku punya lebih banyak spirit fighting!

Waduh, belum-belum sudah bilang kapan selesainya tes ini, aduh bapak dah tua tidak secerdas dulu waktu masih muda…lalu contek sana contek sini. Aku tidak segan-segan menulis nomor si peserta itu dan pastinya interpretasi psikologisnya ada catatan tersendiri.

Setahuku nih pak, seberapapun usianya kalau memang dasarnya cerdas sampai tua ya tetap saja cerdas, dan mental bapak yang suka nyontek tuh mental yang gak bener! Pantas saja di bea cukai banyak korupsi, wong disuruh ngerjakan tes kepribadian masih liat punya temannya!

Mental tidak jujur itu sudah mengakar kuat bahkan untuk mendeskripsikan dirinya masih juga tidak jujur. Kemudian sambil lalu, aku mendapatkan job sebagai pengajar bahasa inggris untuk anak SD kelas 2 dan 3. asyik banget bersama mereka… satu kelas maksimal 10 anak.

‘good evening kids sapaku memulai kelas… ‘good evening…’ jawab mereka kompak. Amazing banget kalau bareng ma anak-anak, biarpun aku letih dan capek dengan kehidupan pribadiku tapi saat bersama mereka dunia jadi lebih ceria. Pada awalnya mereka tidak terlalu respect denganku…rame banget kelas yang aku pegang, gimana bisa ngajar ya?

Gimana bisa menarik perhatian mereka agar mendengarkanku ya? Akhirnya aku memberi waktu setelah belajar setengah jam kita bermain-main yang memberikan kesempatan pada mereka untuk bergerak kesana kemari dan tentunya ada reward dariku kalau bisa memenangkan permainan itu.

Akhirnya selama setengah jam pertama mereka bisa lebih tenang belajar. Dan permainan yang kuberikan adalah tebak gambar dalam bahasa inggris dari cards dictionary, dan mengerjakan apa yang kuucapkan dalam perintah berbahasa inggris. Lalu istirahat dan kita minum es lilin bareng-bareng, kalau aku gajian ya mereka kutraktir sambil cerita-cerita tentang liburan mereka, hari-hari mereka saat di rumah, di sekolah, ada cerita tentang kejengkelan mereka pada pembantu di rumahnya (kebanyakan mereka dari keluarga the have)

ya..masih kecil sudah sok kuasa gini, pikirku. Kutengok sisi kontras dari kehidupan anak-anak yang tidak seberuntung mereka. Berlokasi di surabaya juga di daerah dekat Ampel, perkampungan kumuh dengan rumah petak sebesar 1×2 meter atau lebih lebar dikit 2×3 meter. Mungkin aku sering mendengar di berita-berita tapi waktu itu aku berada diantara mereka. Di pinggir gedung sekolah berjajar penjual yang bersebelahan dengan kakus yang tidak higienis yang dipenuhi banyak lalat hijau, kebayang nggak sih..aku bahkan tidak tega untuk melihat anak-anak makan di sana.

Aku menjadi dekat dengan mereka karena diajak temanku yang menjadikan 12 anak-anak itu adik asuhnya. Ya, asisten gitulah…karena temanku cukup sibuk dengan kerja kantornya dan dia cukup mudah mengakses sumber dana karena kerjanya di GKN, pajak lagi. Bantuan yang diberikan temanku adalah sebatas pada dana pendidikan dan pemantauan prestasi belajar mereka. Aku berpikir, melihat kondisi prestasi belajar mereka, hm..Tuhan, apakah itu kutukan atau karunia..rata-rata kecerdasan mereka teradap bidang studi sangat buruk.

Ya, sudah miskin tak pandai pula trus gimana masa depan mereka? Sedangkan lingkungan mereka ne…rata-rata pendidikan setingkat SD dan di kampung itu pekerjaan bapaknya seragam yaitu tukang becak, ibunya jualan makanan kecil, trus gak ada pengetahuan bahwa pendidikan itu penting. Anak gadis usia 12 tahun dah dinikahkan. Nah loe…salah siapa? Surabaya bo’! Dulu, sempat kaget dengan cara bicara mereka yang teriak-teriak, kayak telinga ini gak bisa dengar saja, juga bahasanya yang entah apa artinya, ya mereka sekampung berasal dari madura sedang temanku dan aku dari jawa.

Kalaupun bicara bahasa indonesia lalu mereka melanjutkan dengan bahasa madura yang entah artinya apa, tapi kami berbaik sangka saja mereka tak lagi ngomongin hal-hal buruk.

Ada beberapa momentum heroistik yang telah dilakukan temanku, diantaranya saat salah satu ibu dari adik asuh dipulangkan dari malaysia karena menderita gejala usus buntu plus tyfus. Sedang PJTKI-nya di Jakarta tidak mau membiayai kepulangannya jadi harus dijemput. Temanku langsung berangkat ke bandara juanda terbang lalu menjemputnya ke sana, sebenarnya bisa sih minta tolong teman yang di Jakarta, tapi dia berpendapat kalau masih bisa dilakukan sendiri akan dikerjakannya. Terus aku ma Fanty dengan mengendari mobil kijang bututnya menyusul ke stasiun Pasar Turi.

Setelah ketemu lalu mengantar ke rumahnya dan dikerubungi banyak orang di sana, kami disalami dan perempuan sekampung itu sambil menyalami mereka menangis melihat kondisi si ibu yang seperti hidup segan mati tak mau itu—meninggalkan tiga anaknya di rumah sedangkan suaminya menikah lagi lalu sakit saat jadi TKW, hm…!! Dari sanalah kami mulai dekat dengan penduduk di kampung itu.

Sementara aku dan temanku menunggu di situ, Fanty pergi menjemput seorang dokter teman kami juga yang dia sering membantu di sejumlah kegiatan sosial tanpa dibayar. Setelah datang dan memeriksa lalu memberikan resep itupun ditebus oleh temanku, jadi memang temanku itu punya jiwa sosial yang tinggi dan ada dana lagi, aku dan fanty hanya membantu tenaga dan sumbangan pikiran.

Salut untukmu sist! Ada beberapa even yang kulalui bersama dengan adik-adik itu. Saat mengajak mereka ke kebun binatang surabaya, ke taman flora di Bratang lalu ke toko buku. Saat ke kebun binatang memang harus jalan dan rutenya pasti jauh, ada satu adik asuh yang berusia 5 tahunan, dia penderita epilepsi dan dari awal sudah didiskusikan pertimbangan untuk mengajak atau tidak, tapi anak itu berkeinginan kuat untuk ikut, padahal penyakitnya sudah cukup parah menyerang otaknya.

Hari itu minggu, kami ke kebun binatang di Wonokromo itu bersama-sama, aku membuatkan tanda pengenal yang kugantungkan di leher mereka, juga menyiapkan perbekalan makan waktu itu pakai steroform (sori : itu yg paling praktis walaupun berdampak pd pemanasan global krn makenya).

Di dalam ternyata ada permainan dan anak itu mendekatiku untuk kesana, dia bilang ingin berfoto dengan badut warna pink yang lucu banget. Kutawari apakah dia mau minum teh yang dijual oleh stand itu, ehm ada lemon tea dan wow stand itu juga jual teh kesukaanku bunga krisan, akhirnya kami beli dua gelas dan dapat dua balon…aku lupa kalau kami tadi bersama rombongan anak-anak lain akhire temanku juga yang belikan es teh, wong kocekku terbatas.

Kami berfoto di sepanjang jalan dan berjumpa dengan binatang-binatang (jadi ingat saat awal kuliah setelah UTS aku dan teman2ku ngilangin stress dengan pergi ke kebun binatang, hm..di 2003).

Setelah semuanya selesai, aku dan fanty keluar nyari lyn untuk dicarter nganterin mereka ke kampungnya lagi. Seminggu berlalu dan memang seharusnya tiap minggu kami berkunjung untuk melihat perkembangan prestasi belajar mereka atau sekedar nanya kabar mereka, di minggu itu kami diberitahu bahwa anak kecil itu yang namanya Ilma, dia telah meninggal, Oh my God…tiga hari setelah jalan-jalan dia drop dan lalu dibawa ke puskesmas dan jumatnya dia meninggal, may Allah Blessing you… temanku ngamuk alias marah2…gimana bisa kami tidak dikabari, setidaknya ada yang bisa kami bantu.. temanku bilang dengan mengurus adik-adik itu adalah amal andalan dipunyainya.. yang membuatnya selalu hidup walaupun telah mati kelak karena ada cerita tentangnya yang dimiliki mereka.

Kalau aku ibaratkan meminjam istilahnya Jostein kita yang hidup di sini adalah serangga-serangga mikroskopis yang hidup di sela-sela bulu kelinci. Begitupun juga dengan anak-anak itu, orang-orang di perkampungan itu atau bahkan sebagian warga negara kita karena memandang dunia dengan kacamatanya yang sempit, atau menjalani hidup tanpa berpikir hanya menjalaninya saja. Mengikuti apa yang telah ada, tanpa mengkaji ulang atau bahkan berpikiran baru terhadapnya.

Aku ingin membawa adik-adik itu sama-sama memanjat helaian-helaian lembut dari bulu kelinci itu untuk memandang dunia lebih luas lagi. Penjelajahan ke kebun bibit bratang/taman flora. Hm disana kan banyak alat main, ada perosotan, ayunan yang bermacam bentuknya dan dicat dengan warna ceria.

Wah…kita masuk hutan ne? Lalu mereka berhamburan di sana, setelah itu mereka pulang dan menanyakan kapan akan ke hutan lagi..selang beberapa waktu kemudian ada acara yang mengundang anak-anak itu Smart Club namanya yang dihadiri bu walikota, Dyah Katarina.

Ke hutan lagi ne… temanku sangat antusias membelikan mereka kaos seragam warna putih lalu ya seperti piknik yang biasa kami lakukan nyarter lyn, menyiapkan makanan dan sampai pada acara. Sebenarnya aku ngeliat acara itu biasa saja, hanya di sana diperlihatkan keahlian anak-anak asuhan Dyah Katarina yang piawai memanah dan menjadi atlit panah.

Aku dan temanku nyantai aja ngeliatnya ya…paling nggak mereka tahu dunia luar, tidak berpikiran timbul kecemburuan sosial nantinya, dan yang sering disuruh maju untuk nyemangati adik-adik selalu aku…

Mbak ni..untuk mengejar cita-citanya dibela-belain menjadi tkw, jadi kalian kalau bisa nanti juga sekolah setinggi mungkin lalu membantu adik-adiknya untuk melakukan hal yang sama.

Ngobrol dengan Dyah Katarina pun tidak ditanggapi malah dia asyik ngobrol dengan temannya yang sepertinya sama-sama ibu arisannya hua… kamu harusnya melapor ke ini dan ini biar mereka(adik2 asuh) di data… kami menangani banyak sekali permasalahan dan kewajiban kamu untuk membantu melaporkannya!

Paling juga administrasi doang…pikirku “mereka itu susah diaturnya, masak membiarkan anaknya buang air besar di depan rumah, ih jorok banget! Lalu sambil menggendong anaknya yang lebih kecil menyuapi mereka” kata Dyah dengan nada meremehkan para penduduk di perkampungan itu “ditambah lagi buang sampah di kali, masak kalinya jadi bisa jalan di atasnya karena sampahnya yang numpuk”

Akhire aku dan temanku hanya mendengarkan, apalagi temanku itu karena dia juga berlatar belakang birokrasi lebih cepat naik darahnya, masak kita mau ngomong tidak mau dengerin sih, namanya juga ibu wali kota.. ya, setidaknya jangan sekedar menjabat saja… tau surabaya luas dan banyak masalahnya, ya para pegawai negeri dinas sosial jangan ngantor saja lah bos!

Masak nunggu laporan dari kita, apalagi kelasku masih mahasiswa yang kantongnya kembang-kempis. Kalian tuh yang dibayar negara yang aktif dooooonk! Cape deh! Dan kegiatan yang barusan diadakan temanku yang tentunya dengan dananya pribadi beserta sumbangan teman kantornya, kami mengajak adik-adik ke toko buku. Toga mas surabaya, karena disana banyak diskon. Hm..bukannya aku nggak suka mereka baca novel tapi pilihan mereka seperti My Heart, layar lebar yg dinovelkan dari genre horor…hm…aku bilang sorry, jangan ambil yang ini cari yang lain saja. Temenku mengiyakan saja dan menyuruh anak-anak untuk melaporkan ke aku perizinan macam pilihan bukunya.

Aku perlihatkan beberapa buku yang ceritanya membangun imajinasi mereka dan sesuai dengan usia mereka ya di bagian buku anak-anak pada tidak mau… malah tertarik dengan fiksi yang tidak dibarengi dengan muatan nilai moral untuk asupan gizi kepribadian mereka. Banyak diantara mereka membeli al-quran karena di rumah tidak punya, akhire boleh beli buku dua deh per anak,

Dua jam berlalu waktu dah menjelang maghrib, fantastis jumlah uang yang harus dibayarkan tapi mengingat kampanye gemar membaca dan cinta buku agar mereka bisa memanjat di helaian bulu kelinci untuk melihat dunia luar yang lebih penting bagi mereka sebagai anak penerus bangsa, nominal itu tidak menjadi masalah kata temanku.

Ada PR yang masih harus kami lakukan, membuat mereka berani bercita-cita… dan kami akan menggandengnya selalu.. sebagai kakak mereka, we’re big family…

June 7th, 2008

Julukanku

Posted by joeyleung64 in friendship

Sembadra..

baby corn..

one thousand foots…

nd junior..

ada yang mo tambahin?

Sembadra… Ini julukan pas aku masuk dunia kerja. Di tahun 2006 aku bergabung dengan warga biro, kerja dengan para psikolog lulusan ugm, mereka sudah akrab dengan tokoh srikandi dan sembadra..tokoh pewayangan yang menjadi istri janaka itu dijulukkan kepada para pegawai di sana. Dan yang kena julukan sembadra hanya aku, ya mungkin kinerjaku beda dengan mereka. Pendiam untuk urusan yang bukan urusanku&tanggung jawabku jadi terkesan cuek tapi bukannya tak inisiatif, hanya melakukan tugasku sesuai job-desc aja, karena saat itu kupikir jenjang karierku di sana ya sebatas tester, scorer untuk psikotest dan aku tidak tertarik untuk menjadi broker psikotest seperti teman-temanku yang mempromosikan biro tempatku bekerja ke sekolah2, karena kutahu proyek dari papua belum juga kelar, jadi aku tak mau kredibilitasku tercoreng gara-gara cara kerja mereka yang tidak profesional di mataku, mungkin juga dilihat dari jalanku, klo lagi tak bersemangat..jalanku terlihat seperti orang yang lagi bosan hidup, sembadra to slow to move, to walk…

Baby corn… Cece Titik yang suka teriak-teriak memanggilku dan melihat bajuku yang sering berwarna krem.

“dasar anak kecil ngapain ikut-ikutan kerja!” Emang sih..di tempat kerjaku sekarang size tubuh mereka lebih banyak XL-nya sedang size bajuku kebanyakan S ato klo ke stand bossini/giordano seringnya dapat baju di counter kids dan tubuhku sudah tak terlihat kalau berada di tengah mereka. Baby corn on the big plate…

Luwing, thousands feet..

nd junior…

June 7th, 2008

megalomanic

Posted by joeyleung64 in psycho

Setelah belajar psikologi selama 9 semester, pendapatku tentang manusia dan masalahnya : keberlanjutan hidup manusia ditentukan oleh kepiawaiannya dalam menyelesaikan masalahnya.

Saat aku merasa lemah dan tidak tegar aku diingatkan oleh seseorang untuk tidak berpikiran sempit artinya aku harus berpikir lebih luas tentang konflik yang ada dihadapanku. Sebenarnya itu sudah menjadi prinsip seorang yang ambil jurusan psikologi, dalam memandang sebuah masalah harus dari berbagai sudut, tapi pada kenyataannya aku masih butuh teman yang ngingetin aku dengan lika-liku jalannya.

Belum lama kuterbebas dari sebuah jaring-jaring psikopat plus megalomanic, intinya ternyata teman yang kelihatannya baik- bahkan sangat baik yang membuatmu sangat percaya dengan kebaikan hatinya, niat baiknya yang akan membantu kesulitan yang sedang kamu hadapi.. maka percaya deh biasanya berapa persen ya kebaikan itu tidak sepenuhnya benar.

Bagaimana mungkin aku yang belajar psikologi bisa ada di dalam wilayah kekuasaannya dan susah untuk menghentikannya? Bahkan di kuliah modifikasi perilaku-pun belum bisa kuterapkan untuk mengubah perilakuku sendiri untuk memutuskan pertemanan dengan seorang psikotik, kupikir aku akan membantunya, menyadarkannya.. yang terjadi korbannya adalah aku sendiri, memangnya siapa aku? Aku bukan dari golongan profesional, sifat empati yang berlebihan harus kuhentikan kalau tidak benar-benar mempermalukanku di hadapan partner kerjaku dan sifat posesif dari si psikotik akan membuatku terpisah dari duniaku lagi, aku bisa mati karena tidak memiliki diriku sepenuhnya.

Percaya deh kebebasan adalah hak setiap manusia. Sekarang, Aku memiliki diriku lagi… aku memiliki keinginanku lagi.. aku memiliki nafas dan merasakannya sebagai keberkahan dan keindahan kehidupan lagi, i’ve been wake up from my collapse… adalah pantangan bagiku memiliki sahabat perempuan lagi, mungkin..karena kebanyakan dari mereka bermuka dua tapi bagiku punya teman perempuan yang baik sudah cukup!

Tapi darinya aku banyak belajar tentang bagaimana psikodinamika kepribadian seorang psikotik. Bahkan setelah praktikum 7 kali kelas psikodiagnostik berhubungan dengan sekian orang bermasalah di laboratorium psikologi belum kutemukan megalomanic sepandai dia. Kemampuannya berbohong sudah mencapai derajat tingkat tinggi dan seperti seorang yang bicara normal tapi thanks for Godness, i’ve been reading ‘Blink’ and aku punya kemampuan untuk itu. Hm, orang bilang belajar psikologi itu ilmu perdukunan yang sudah dibuktikan secara empiris melalui penelitian, ha ha..

Thanks 4 Godness again, aku bertemu dengan orang-orang yang mempunyai sifat assertif yang bisa kubuat role model. Semakin tahu tentang ilmu perilaku/jiwa ini pastinya akan menjadi seorang yang super hati-hati dalam berperilaku, karena setiap perilaku itu mengandung konsekuensi-konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan. Kuketahui bahwa dengan menjadi sarjana bukanlah titik akhir perjalanan studiku, aku masih terus belajar life span..

wishing all my passion becoming true.