‘hari gini tidak punya blogger… hm aja deh!’kata si Sofia saat screendocs traveling sedikit mengusikku..
‘okay, aku akan sedikit meluangkan waktu untuk nulis di bloggerq dan tentunya harus ke warnet dulu…dan buat dulu karena aku gak punya…’
‘Mbak, kamu punya blogs? Bla…bla…’
‘punya tapi gak up date lagi’
‘jangan jadi penulis yang katrok dong!’
Hua… hua… Ya wes, ne..lagi ada laptop nganggur (punyae my kost-mate), jadi kupakai sajalah..
‘eh.nik, emang kapan loe ke hong kong-nya? Di usia berapa?’
Ternyata masih ada saja yang menanyakan keberangkatanku ke HK, apa karena liat badanku yang kecil dan tampangku yang sok imut hua… selalu bilangnya gak nyangka lho, loe dengan kondisi seperti ini pernah jadi tkw ke luar negeri.
‘loe ngambil jurusan apa? Oh, psikologi… belagu amat ngambil jurusan itu’kata mbak Aline, editor dari semarang itu!
‘oh ya? Emang belagu?’ sambil kupasang wajah yang tidak mengerti dan mengernyitkan dahiku.
‘loe gimana bisa tertarik ikutan eagle.. masuk finalis lagi’
‘waduh bos… kalau kujelaskan panjang dan lebar kayanya gak seru deh!’ Menurutku kalau jurusan pembicaraan kita mengarah pada pendidikan apa yang lebih bisa mengakomodir eksistensiku di kemudian hari sehubungan dengan predikat alumni eagle mungkin psikologi gak nyambung dan bahkan kami di kampus sudah dididik untuk nantinya melanjutkan pendidikan profesi yang menjadikan kami seorang psikolog.
Pada awalnya, dulu alasanku mengambil psikologi karena aku ingin membuat novel-novel berbasis pendidikan yang kuambil. Tapi kemudian di perjalanannya karena tulisan-tulisanku ‘garing’ alias belum bisa melibatkan emosi pembaca dan saat kuliah aku juga dituntut untuk meras otak gimana bisa survive.
25 juta untuk bertahan di surabaya mengambil kuliah di kampus swasta wah…ya tidak cukup bos! Ini yang sering aku bilang saat beberapa temanku yang di HK berencana mau kuliah, jangan nekat kayak aku dulu.. ya jaga-jaga itu penting, setidaknya di tabungan ada 50 juta dah posisi aman, dan di HK kan ada LP3I dan Pikti ITS ikut saja kursus itu setahun ngambil desain grafis yang menurutku jurusan ini lebih mudah untuk nyari kerja selama kuliah.
25 juta bisa bertahan selama 4 semester saja. Boros?! Gak lah… mulai ngontrak, biaya hidup, biaya kuliah dan aku ikutan bisnis hm…yg ini hasilnya kacau : ikutan multi level marketing—kan pengeluaran tambah banyak tuh, mulai bayar uang masuk untuk pertemuan yang biasa diadakan di garden palace hotel bo’! mau2nya ya sampe rela ninggalin beberapa mata kuliah, berjalan tiga bulan kemudian aku lepaskan karena aku kembali berpikir…koq bisnis sih, dulu waktu di HK kan pingin nuntut ilmu lalu jadi penulis dan ikhlaskan sajalah modal yang telah dikeluarkan gak perlu nyari member lagi…
Dan Tuhan membuka jalanNya untukku… Aku bisa masuk magang di biro konsultasi psikologi kampusku. Sebenarnya aku malas banget ngantor lalu jaga di sana…tapi yang aku suka saat dapat proyek dan harus menjadi tester di psikotes.
Sering dapat tender dari lingkungan ngetes pejabat eselon… aku jadi tahu, gimana sih intelektual mereka. Dan kadang aku bilang pada diriku sendiri, oh segitu saja tho! Kok bisa diterima ya? Kalau yang muda-muda seperti aku nih masuk kesana mungkin indonesia akan lebih baik, karena aku punya lebih banyak spirit fighting!
Waduh, belum-belum sudah bilang kapan selesainya tes ini, aduh bapak dah tua tidak secerdas dulu waktu masih muda…lalu contek sana contek sini. Aku tidak segan-segan menulis nomor si peserta itu dan pastinya interpretasi psikologisnya ada catatan tersendiri.
Setahuku nih pak, seberapapun usianya kalau memang dasarnya cerdas sampai tua ya tetap saja cerdas, dan mental bapak yang suka nyontek tuh mental yang gak bener! Pantas saja di bea cukai banyak korupsi, wong disuruh ngerjakan tes kepribadian masih liat punya temannya!
Mental tidak jujur itu sudah mengakar kuat bahkan untuk mendeskripsikan dirinya masih juga tidak jujur. Kemudian sambil lalu, aku mendapatkan job sebagai pengajar bahasa inggris untuk anak SD kelas 2 dan 3. asyik banget bersama mereka… satu kelas maksimal 10 anak.
‘good evening kids sapaku memulai kelas… ‘good evening…’ jawab mereka kompak. Amazing banget kalau bareng ma anak-anak, biarpun aku letih dan capek dengan kehidupan pribadiku tapi saat bersama mereka dunia jadi lebih ceria. Pada awalnya mereka tidak terlalu respect denganku…rame banget kelas yang aku pegang, gimana bisa ngajar ya?
Gimana bisa menarik perhatian mereka agar mendengarkanku ya? Akhirnya aku memberi waktu setelah belajar setengah jam kita bermain-main yang memberikan kesempatan pada mereka untuk bergerak kesana kemari dan tentunya ada reward dariku kalau bisa memenangkan permainan itu.
Akhirnya selama setengah jam pertama mereka bisa lebih tenang belajar. Dan permainan yang kuberikan adalah tebak gambar dalam bahasa inggris dari cards dictionary, dan mengerjakan apa yang kuucapkan dalam perintah berbahasa inggris. Lalu istirahat dan kita minum es lilin bareng-bareng, kalau aku gajian ya mereka kutraktir sambil cerita-cerita tentang liburan mereka, hari-hari mereka saat di rumah, di sekolah, ada cerita tentang kejengkelan mereka pada pembantu di rumahnya (kebanyakan mereka dari keluarga the have)
ya..masih kecil sudah sok kuasa gini, pikirku. Kutengok sisi kontras dari kehidupan anak-anak yang tidak seberuntung mereka. Berlokasi di surabaya juga di daerah dekat Ampel, perkampungan kumuh dengan rumah petak sebesar 1×2 meter atau lebih lebar dikit 2×3 meter. Mungkin aku sering mendengar di berita-berita tapi waktu itu aku berada diantara mereka. Di pinggir gedung sekolah berjajar penjual yang bersebelahan dengan kakus yang tidak higienis yang dipenuhi banyak lalat hijau, kebayang nggak sih..aku bahkan tidak tega untuk melihat anak-anak makan di sana.
Aku menjadi dekat dengan mereka karena diajak temanku yang menjadikan 12 anak-anak itu adik asuhnya. Ya, asisten gitulah…karena temanku cukup sibuk dengan kerja kantornya dan dia cukup mudah mengakses sumber dana karena kerjanya di GKN, pajak lagi. Bantuan yang diberikan temanku adalah sebatas pada dana pendidikan dan pemantauan prestasi belajar mereka. Aku berpikir, melihat kondisi prestasi belajar mereka, hm..Tuhan, apakah itu kutukan atau karunia..rata-rata kecerdasan mereka teradap bidang studi sangat buruk.
Ya, sudah miskin tak pandai pula trus gimana masa depan mereka? Sedangkan lingkungan mereka ne…rata-rata pendidikan setingkat SD dan di kampung itu pekerjaan bapaknya seragam yaitu tukang becak, ibunya jualan makanan kecil, trus gak ada pengetahuan bahwa pendidikan itu penting. Anak gadis usia 12 tahun dah dinikahkan. Nah loe…salah siapa? Surabaya bo’! Dulu, sempat kaget dengan cara bicara mereka yang teriak-teriak, kayak telinga ini gak bisa dengar saja, juga bahasanya yang entah apa artinya, ya mereka sekampung berasal dari madura sedang temanku dan aku dari jawa.
Kalaupun bicara bahasa indonesia lalu mereka melanjutkan dengan bahasa madura yang entah artinya apa, tapi kami berbaik sangka saja mereka tak lagi ngomongin hal-hal buruk.
Ada beberapa momentum heroistik yang telah dilakukan temanku, diantaranya saat salah satu ibu dari adik asuh dipulangkan dari malaysia karena menderita gejala usus buntu plus tyfus. Sedang PJTKI-nya di Jakarta tidak mau membiayai kepulangannya jadi harus dijemput. Temanku langsung berangkat ke bandara juanda terbang lalu menjemputnya ke sana, sebenarnya bisa sih minta tolong teman yang di Jakarta, tapi dia berpendapat kalau masih bisa dilakukan sendiri akan dikerjakannya. Terus aku ma Fanty dengan mengendari mobil kijang bututnya menyusul ke stasiun Pasar Turi.
Setelah ketemu lalu mengantar ke rumahnya dan dikerubungi banyak orang di sana, kami disalami dan perempuan sekampung itu sambil menyalami mereka menangis melihat kondisi si ibu yang seperti hidup segan mati tak mau itu—meninggalkan tiga anaknya di rumah sedangkan suaminya menikah lagi lalu sakit saat jadi TKW, hm…!! Dari sanalah kami mulai dekat dengan penduduk di kampung itu.
Sementara aku dan temanku menunggu di situ, Fanty pergi menjemput seorang dokter teman kami juga yang dia sering membantu di sejumlah kegiatan sosial tanpa dibayar. Setelah datang dan memeriksa lalu memberikan resep itupun ditebus oleh temanku, jadi memang temanku itu punya jiwa sosial yang tinggi dan ada dana lagi, aku dan fanty hanya membantu tenaga dan sumbangan pikiran.
Salut untukmu sist! Ada beberapa even yang kulalui bersama dengan adik-adik itu. Saat mengajak mereka ke kebun binatang surabaya, ke taman flora di Bratang lalu ke toko buku. Saat ke kebun binatang memang harus jalan dan rutenya pasti jauh, ada satu adik asuh yang berusia 5 tahunan, dia penderita epilepsi dan dari awal sudah didiskusikan pertimbangan untuk mengajak atau tidak, tapi anak itu berkeinginan kuat untuk ikut, padahal penyakitnya sudah cukup parah menyerang otaknya.
Hari itu minggu, kami ke kebun binatang di Wonokromo itu bersama-sama, aku membuatkan tanda pengenal yang kugantungkan di leher mereka, juga menyiapkan perbekalan makan waktu itu pakai steroform (sori : itu yg paling praktis walaupun berdampak pd pemanasan global krn makenya).
Di dalam ternyata ada permainan dan anak itu mendekatiku untuk kesana, dia bilang ingin berfoto dengan badut warna pink yang lucu banget. Kutawari apakah dia mau minum teh yang dijual oleh stand itu, ehm ada lemon tea dan wow stand itu juga jual teh kesukaanku bunga krisan, akhirnya kami beli dua gelas dan dapat dua balon…aku lupa kalau kami tadi bersama rombongan anak-anak lain akhire temanku juga yang belikan es teh, wong kocekku terbatas.
Kami berfoto di sepanjang jalan dan berjumpa dengan binatang-binatang (jadi ingat saat awal kuliah setelah UTS aku dan teman2ku ngilangin stress dengan pergi ke kebun binatang, hm..di 2003).
Setelah semuanya selesai, aku dan fanty keluar nyari lyn untuk dicarter nganterin mereka ke kampungnya lagi. Seminggu berlalu dan memang seharusnya tiap minggu kami berkunjung untuk melihat perkembangan prestasi belajar mereka atau sekedar nanya kabar mereka, di minggu itu kami diberitahu bahwa anak kecil itu yang namanya Ilma, dia telah meninggal, Oh my God…tiga hari setelah jalan-jalan dia drop dan lalu dibawa ke puskesmas dan jumatnya dia meninggal, may Allah Blessing you… temanku ngamuk alias marah2…gimana bisa kami tidak dikabari, setidaknya ada yang bisa kami bantu.. temanku bilang dengan mengurus adik-adik itu adalah amal andalan dipunyainya.. yang membuatnya selalu hidup walaupun telah mati kelak karena ada cerita tentangnya yang dimiliki mereka.
Kalau aku ibaratkan meminjam istilahnya Jostein kita yang hidup di sini adalah serangga-serangga mikroskopis yang hidup di sela-sela bulu kelinci. Begitupun juga dengan anak-anak itu, orang-orang di perkampungan itu atau bahkan sebagian warga negara kita karena memandang dunia dengan kacamatanya yang sempit, atau menjalani hidup tanpa berpikir hanya menjalaninya saja. Mengikuti apa yang telah ada, tanpa mengkaji ulang atau bahkan berpikiran baru terhadapnya.
Aku ingin membawa adik-adik itu sama-sama memanjat helaian-helaian lembut dari bulu kelinci itu untuk memandang dunia lebih luas lagi. Penjelajahan ke kebun bibit bratang/taman flora. Hm disana kan banyak alat main, ada perosotan, ayunan yang bermacam bentuknya dan dicat dengan warna ceria.
Wah…kita masuk hutan ne? Lalu mereka berhamburan di sana, setelah itu mereka pulang dan menanyakan kapan akan ke hutan lagi..selang beberapa waktu kemudian ada acara yang mengundang anak-anak itu Smart Club namanya yang dihadiri bu walikota, Dyah Katarina.
Ke hutan lagi ne… temanku sangat antusias membelikan mereka kaos seragam warna putih lalu ya seperti piknik yang biasa kami lakukan nyarter lyn, menyiapkan makanan dan sampai pada acara. Sebenarnya aku ngeliat acara itu biasa saja, hanya di sana diperlihatkan keahlian anak-anak asuhan Dyah Katarina yang piawai memanah dan menjadi atlit panah.
Aku dan temanku nyantai aja ngeliatnya ya…paling nggak mereka tahu dunia luar, tidak berpikiran timbul kecemburuan sosial nantinya, dan yang sering disuruh maju untuk nyemangati adik-adik selalu aku…
Mbak ni..untuk mengejar cita-citanya dibela-belain menjadi tkw, jadi kalian kalau bisa nanti juga sekolah setinggi mungkin lalu membantu adik-adiknya untuk melakukan hal yang sama.
Ngobrol dengan Dyah Katarina pun tidak ditanggapi malah dia asyik ngobrol dengan temannya yang sepertinya sama-sama ibu arisannya hua… kamu harusnya melapor ke ini dan ini biar mereka(adik2 asuh) di data… kami menangani banyak sekali permasalahan dan kewajiban kamu untuk membantu melaporkannya!
Paling juga administrasi doang…pikirku “mereka itu susah diaturnya, masak membiarkan anaknya buang air besar di depan rumah, ih jorok banget! Lalu sambil menggendong anaknya yang lebih kecil menyuapi mereka” kata Dyah dengan nada meremehkan para penduduk di perkampungan itu “ditambah lagi buang sampah di kali, masak kalinya jadi bisa jalan di atasnya karena sampahnya yang numpuk”
Akhire aku dan temanku hanya mendengarkan, apalagi temanku itu karena dia juga berlatar belakang birokrasi lebih cepat naik darahnya, masak kita mau ngomong tidak mau dengerin sih, namanya juga ibu wali kota.. ya, setidaknya jangan sekedar menjabat saja… tau surabaya luas dan banyak masalahnya, ya para pegawai negeri dinas sosial jangan ngantor saja lah bos!
Masak nunggu laporan dari kita, apalagi kelasku masih mahasiswa yang kantongnya kembang-kempis. Kalian tuh yang dibayar negara yang aktif dooooonk! Cape deh! Dan kegiatan yang barusan diadakan temanku yang tentunya dengan dananya pribadi beserta sumbangan teman kantornya, kami mengajak adik-adik ke toko buku. Toga mas surabaya, karena disana banyak diskon. Hm..bukannya aku nggak suka mereka baca novel tapi pilihan mereka seperti My Heart, layar lebar yg dinovelkan dari genre horor…hm…aku bilang sorry, jangan ambil yang ini cari yang lain saja. Temenku mengiyakan saja dan menyuruh anak-anak untuk melaporkan ke aku perizinan macam pilihan bukunya.
Aku perlihatkan beberapa buku yang ceritanya membangun imajinasi mereka dan sesuai dengan usia mereka ya di bagian buku anak-anak pada tidak mau… malah tertarik dengan fiksi yang tidak dibarengi dengan muatan nilai moral untuk asupan gizi kepribadian mereka. Banyak diantara mereka membeli al-quran karena di rumah tidak punya, akhire boleh beli buku dua deh per anak,
Dua jam berlalu waktu dah menjelang maghrib, fantastis jumlah uang yang harus dibayarkan tapi mengingat kampanye gemar membaca dan cinta buku agar mereka bisa memanjat di helaian bulu kelinci untuk melihat dunia luar yang lebih penting bagi mereka sebagai anak penerus bangsa, nominal itu tidak menjadi masalah kata temanku.
Ada PR yang masih harus kami lakukan, membuat mereka berani bercita-cita… dan kami akan menggandengnya selalu.. sebagai kakak mereka, we’re big family…