<

Saat ini dengan klisenya kujawab “bahagia”…

Saat kecil dulu, bahagia kuanggap sebagai keberhasilanku mendapatkan rangking pertama di setiap catur wulan. Dan akhirnya aku mendapatkan sebagai the one saat smp, aku selalu berada diurutan pertama yup…tapi aku tidak menikmatinya, aku hanya berjuang mendapatkannya dan tak tahu apa gunanya semua itu saat aku harus berbenturan dengan biaya hidup yang kian meninggi sehingga aku tak bisa mengikuti beberapa macam les lagi saat sma yang bisa membuatku bahagia karena menjadi the one.

Kebahagiaanku buyar dan terancam tidak bahagia karena memang benar-benar aku tak bisa sekolah lagi dan setelah kuketahui lagi, orang yang sekolah tinggi-tinggi pun kesulitan mencari pekerjaan…walah…apa yang kuinginkan dalam hidupku, selain kebahagiaan. Dan jika sulit begini untuk sekolah lalu apalagi yang harus kulakukan?

Setiap hari, sepertinya tak ada hari selain berpikir, sebaiknya apa yang harus aku lakukan biar aku bisa menjadi bahagia dengan menjadi orang yang terdidik. Duniaku menjadi lebih luas, aku mempunyai teman yang banyak… dan tentu saja hidupku dalam kelayakan.

Dan akupun mencoba beberapa dunia kerja yang kadang sampai sekarang aku menjadi amazing sama keputusanku saat itu “kok bisa?” aku mempunyai idealisme yang tinggi bahkan terlihat perfeksionis terhadap setiap jengkal hidupku sehingga aku menginginkan sebuah kerja maksimal penuh kesempurnaan dan pemanfaatan semaksimal mungkin apa yang kumiliki.

Gebrakan yang ada di hidupku adalah saat menjadi helper di hongkong, ah… cerita menjadi tkw itu biasa saja karena bagi sebagian penduduk negeri ini menjadikannya sebagai biasa dan tak ada spesialnya, helper menjadi bagian masyarakat yang terpinggirkan dan aku merasakannya.

Itu terbukti dengan ketidakberanianku untuk menyatakan profesiku yang satu ini, tak ada kebanggaan menjadi seorang mantan helper, itu berlaku di indonesia, karena kultur masyarakatnya memang demikian, kebanyakan tradisi  kerajaan di jawa yang membedakan antara kaum priyayi dan babu begitu berjarak, dan bukan menganggap sebagai partner, makanya kita bisa liat banyak cerita di film-film indonesia yang ide ceritanya seperti romeo and juliet, perbedaan kasta yang menghalangi cinta dan membedakan dengan film box office amerika yang lebih universal dan lebih banyak ide yang diangkat, kalaupun ide cerita tentang cinta maka konsep kekinian kultur amerika yang diperlihatkan.

Memang apa untungnya menjadi tkw/helper, selain uang? Kalau uang saja mungkin tidak akan bisa bertahan begitu lama 2×365 hari kalau tidak karena perfeksionis telah kuidap begitu akut maka semuanya terlewati.. kuinginkan hidup begitu perfect, dengan keluarga hubungan harus baik, dengan teman hubungan harus baik dan dengan Tuhan hubungan harus baik, pokoke perfect abis!

Selamat datang di realita my dearest xxx! Ha ha.. kesempurnaan itu memang milik Tuhan, bahkan hubungan dengan diriku sendiri masih harus selalu kuperbaiki, aku masih harus mengenal diriku lebih jauh dan untuk membina hubungan baik dengan diluar diriku aku harus mengenalku dan mencintai diriku dulu…

Dan kepelikan… kerumitan hidup harus segera disederhanakan dan itu kumulai dengan menengok cara berpikirku yang kadang masih perfectionist. Perfeksionis itu hanya ada dalam tataran ide, jadi dalam dunia nyata tidak bisa dilakukan karena idealisme itu harus menyesuaikan dengan realita..dan tidak bisa sebaliknya. Bukankah untuk urusan dunia kita yang lebih tahu.. jadi ya, fleksibel aja.

Ya…saat aku dulu menjadi juara kelas semuanya karena aku ingin menyenangkan dan membuat bangga keluarga, saat aku terdaftar di sekolah favorit juga karena aku ingin membuat bangga keluarga, maka saat aku menjadi helper aku terbebani dengan image tkw di luar negeri dan aku takut akan merusak nama baik keluarga. Tapi  saat kuliah aku dah berani membuat keputusan mengambil jurusan yang tidak ada campur tangan keluarga, dan bahkan untuk urusan kerjaan juga semuanya kuputuskan sendiri, karena kutahu mana kerjaan yang bisa membuatku bahagia, nyaman dan menikmati waktu demi waktu sampai jam kerja usai. Berada dibalik komputer membuat konsep yang diperlukan bosku..ha..masih belum cukup mampu menjadi enterpreneur sih…

Jadi bahagia itu akan kuuraikan lagi sebagai penerimaan diri apa adanya dan dengan usaha maksimal menjalani hidup dengan kemanfaatan bagi diri sendiri, penuh cinta pada diri sendiri itu sebagai awalnya… kubuatkan rumus ini karena sudah terlalu lama aku hanya memikirkan kebahagiaan orang lain dan menyia-nyiakan diriku, padahal yang bertanggung jawab untuk menyenangkan diri adalah kita sendiri. Sekarang aku mulai manja pada diriku senidri ha ha…

June 7th, 2008 at 11:23 pm