<

Di ruang yang hampir sama delapan tahun yang lalu, aku terpuruk. Menghadapi hidup yang tidak pasti, dunia gelap bahkan seakan keputusasaan telah berkawan dengan pemikiran ini.

Apa memang jalan hidupku akan berakhir di sudut surabaya itu? Sekarang senyum itu kian mengembang… aku sudah melewatinya… saat aku bersama dengan para calon pekerja di salah satu BLK, aku membagi dengan mereka… ternyata aku pernah mengalami hal yang sama seperti yang mereka alami sekarang… Ada yang bilang kalau aku terlalu mujur dalam hidup ini… bertemu dengan orang-orang yang baik saja.. aku tak hendak mengumbar keburukanku ataupun keburukan orang yang ada di dekatku, karena kalau Allah sudah menutup keburukan itu, biarlah menjadi rahasia kita dengan Nya…

yup, kalo yang terlihat saat ini, saat semua perlahan menjadi baik, saat aku telah menyelesaikan skripsiku… saat aku mulai belajar berkarya… saat mimpiku menjadi nyata satu per satu… dan memang itulah yang kuharapkan terjadi di diriku… Aku sangat menyukai saat naik bis pulang ke rumahku dan melewati pabrik tempatku dulu bekerja… dan aku pun tersenyum, aku pernah mengalaminya menjadi bagian darinya…berangkat pagi dan sarapan di warung dekat pabrik lalu makan siang soto di depan pabrik dan bekerja seperti biasanya lalu membeli setumpuk roti kasur yang berisi meses ataupun coklat untuk kumakan di malam hari.

Aku senang bisa mengalami episode itu… Saat kulihat fotoku memakai toga… dan akupun tersenyum,…ternyata kamu bisa juga melewatinya, selesai juga episode kuliah sarjanamu… kupikir dulu sebelum kuliah, dunia perkuliahan itu penuh dengan belajar dan tugas.. lalu pegangnya buku tebal-tebal text book berbahasa asing, dan akupun sudah menyiapkan tas, bolpen, disket sekotak lalu file buat kuliah… jauh-jauh hari akupun sudah menyiapkan baju-baju yang nantinya kupakai kuliah…karena menurutku kuliah itu seperti sebuah Perjamuan Suci—majelis menuntut ilmu jadi semuanya dipersiapkan dengan baik.

Di setiap kuliah selalu kucantumkan ‘lecture 1… lecture 2 etc..” sebagai tanda aku mengikutinya dengan rajin. Lalu tulisanku itu kukumpulkan, aku menganggapnya sebagai buku suci yang harus dijaga kelestariannya.

Saat tabunganku habis, aku pun merasa akankah Tuhan mengirimkan malaikatnya untuk membantuku, bukankah dunia ini milikNya… maka sangatlah mudah untuk mempertemukanku dengan penolongku… ah, doa itu hanya berjarak beberapa bulan dan terjawab, aku bertemu dengan Mbak Upik… setelah kukirimkan proposal beasiswa, di rekeningku sudah muncul rangkaian digit yang bisa kupakai untuk membayar… dan akupun berusaha uang yang diberikan itu bisa kubuat modal kerja sehingga di semester yang akan datang aku tak lagi mengirimkan proposal dana lagi… aku menjadi penjahit baju… awalnya kubelikan mesin jahit di pasar turi, seharga 400 rb… aku tidak pernah les secara resmi tapi aku pernah belajar ekskul tata busana selama tiga tahun saat aku di smp dulu. Akupun bilang sama teman-teman kuliahku barangkali ada yang butuh menjahitkan bajunya. Ada beberapa temanku yang dengan sengaja membeli bahan untuk dijahitkan kepadaku. Saat itu temanku yang mau pindah ke jakarta memesan 4 rok panjang untuk dipakai ke kantor, bahannya mahal lagi.

Setelah membeli beberapa peralatan menjahit seperti meteran, benang dan jarum lalu kuukur lingkar pinggang, lingkar panggul serta panjang rok yang diinginkan. Setelahnya akupun membuat pola roknya. Lalu memotong bahan-bahan itu. Menjahit pesanan pertama ini bukannya aku mendapat untung tapi karena jarak antara tempat kosku dengan tempat ngobras sangat jauh jadi aku yang sudah capek ya naik becak saja ke sana dan jatuhnya mahal banget. Akupun mencari cara agar bisa menjangkau tempat ngobras dengan cepat aku minta dikirimi sepeda mini. Lalu ada lagi teman yang menjahitkan bajunya sampai enam potong, tapi yang diambil baru empat potong, walhasil sisanya masih diaku ha ha…lama-lama jahitanku laris mulai dari baju ibu hamil sampai blues santai ataupun kemeja perempuan atau sekedar permak…

tibalah suatu masa dimana aku kecapekan teramat capek yup terkena diare lalu typhus dan harus opname… aku pun berhenti, nota-nota pesanan itupun kulihat lagi, omsetnya besar juga dan lumayan buat makan sehari-hari anak kos. Tapi badanku tak sekuat jiwaku, harus istirahat.. mesin jahitku akhirnya kupulangkan ke kampung, karena menjahitnya tidak boleh memakai dinamo dan harus manual sedangkan perutku jadi semakin sakit karenanya.

Kesehatan akhirnya menjadi prioritas utama. Akupun beralih profesi menjadi pengajar bahasa inggris anak-anak sd dan tk itu dan berangkat ke tempat kerja memakai sepeda mini, lumayan lah untuk bisa bantu ongkos makan sehari-hari, dan kalau ada pengetesan besar jika biro tempatku magang dapat proyek maka akan enak lagi bisa untuk bayar kosku…kerja ngetes 10 anak dapat 500rb, lumayan buanget!!

Sambil tersenyum kupandangi lagi fotoku saat wisuda itu..hm… aku juga pernah menjadi mahasiswa sama seperti yang lainnya, bukan sekedar intelektual salon yang menang di idealisme saja, dan aku yakin bukanlah termasuk golongan bachelor munafik yang hanya mampu berteriak tapi no action, menganggap hanya caranya saja yang benar sebagai sosok mahasiswa…kalu tidak menjadi aktivis berarti bukan mahasiswa, sebuah pemikiran sempit!!

Aku punya cara sendiri yang kupandang efektif menyalurkan aspirasiku sebagai warga negara juga menunjukkan eksistensiku… Di setiap doa, aku meminta agar Tuhan menjadikanku alatNya wujud kebesaranNya, agar usia karyaku menjadi sangat panjang kalau bisa masuk kesejarahan ha ha, ketawa ya?!

Dan Tuhan lebih tahu lewat jalan mana. Walau masih belum masuk kesejarahan… namaku telah terukir di sebuah batu cokelat yang dibungkus kotak dari kayu jati… dengan kepala burung elang sebagai lambang kebebasanku dan ke-independent-anku, prasasti yang diberikan oleh eagle award, ha ha.. yang itu namanya plakat bo’ bukan prasasti?! Aku senyum melihatnya, karena aku pernah menjadi bagian darinya…

Aku pun tersenyum saat bintang di langit masih bersinar… bintang yang sama kulihat di langit di belahan bumi lain.. bintang yang membuatku menunjuknya sebagai bintangku… mungkin nanti akan ada satu bintang yang belum punya nama dan bisa kuminta sebagai bintangku… ha ha yang ini kaya di film banget?! Masih banyak senyum lain yang harusnya kukumpulkan dalan jurnal kebahagiaanku, ini hanya senyum saat aku membaginya dengan diriku sendiri… senyum yang kurajut dengan teman masih menunggu waktu untukku bisa menuliskannya… (26 Mei 2008)

June 7th, 2008 at 11:26 pm


One Response to “episode yang lewat”
  1. 1
      ielma says:

    subhanalloh. .. . !
    saLut dch bwt mbk’nya. . .
    aku bìsa gx y kyk gtu?