<

Setelah belajar psikologi selama 9 semester, pendapatku tentang manusia dan masalahnya : keberlanjutan hidup manusia ditentukan oleh kepiawaiannya dalam menyelesaikan masalahnya.

Saat aku merasa lemah dan tidak tegar aku diingatkan oleh seseorang untuk tidak berpikiran sempit artinya aku harus berpikir lebih luas tentang konflik yang ada dihadapanku. Sebenarnya itu sudah menjadi prinsip seorang yang ambil jurusan psikologi, dalam memandang sebuah masalah harus dari berbagai sudut, tapi pada kenyataannya aku masih butuh teman yang ngingetin aku dengan lika-liku jalannya.

Belum lama kuterbebas dari sebuah jaring-jaring psikopat plus megalomanic, intinya ternyata teman yang kelihatannya baik- bahkan sangat baik yang membuatmu sangat percaya dengan kebaikan hatinya, niat baiknya yang akan membantu kesulitan yang sedang kamu hadapi.. maka percaya deh biasanya berapa persen ya kebaikan itu tidak sepenuhnya benar.

Bagaimana mungkin aku yang belajar psikologi bisa ada di dalam wilayah kekuasaannya dan susah untuk menghentikannya? Bahkan di kuliah modifikasi perilaku-pun belum bisa kuterapkan untuk mengubah perilakuku sendiri untuk memutuskan pertemanan dengan seorang psikotik, kupikir aku akan membantunya, menyadarkannya.. yang terjadi korbannya adalah aku sendiri, memangnya siapa aku? Aku bukan dari golongan profesional, sifat empati yang berlebihan harus kuhentikan kalau tidak benar-benar mempermalukanku di hadapan partner kerjaku dan sifat posesif dari si psikotik akan membuatku terpisah dari duniaku lagi, aku bisa mati karena tidak memiliki diriku sepenuhnya.

Percaya deh kebebasan adalah hak setiap manusia. Sekarang, Aku memiliki diriku lagi… aku memiliki keinginanku lagi.. aku memiliki nafas dan merasakannya sebagai keberkahan dan keindahan kehidupan lagi, i’ve been wake up from my collapse… adalah pantangan bagiku memiliki sahabat perempuan lagi, mungkin..karena kebanyakan dari mereka bermuka dua tapi bagiku punya teman perempuan yang baik sudah cukup!

Tapi darinya aku banyak belajar tentang bagaimana psikodinamika kepribadian seorang psikotik. Bahkan setelah praktikum 7 kali kelas psikodiagnostik berhubungan dengan sekian orang bermasalah di laboratorium psikologi belum kutemukan megalomanic sepandai dia. Kemampuannya berbohong sudah mencapai derajat tingkat tinggi dan seperti seorang yang bicara normal tapi thanks for Godness, i’ve been reading ‘Blink’ and aku punya kemampuan untuk itu. Hm, orang bilang belajar psikologi itu ilmu perdukunan yang sudah dibuktikan secara empiris melalui penelitian, ha ha..

Thanks 4 Godness again, aku bertemu dengan orang-orang yang mempunyai sifat assertif yang bisa kubuat role model. Semakin tahu tentang ilmu perilaku/jiwa ini pastinya akan menjadi seorang yang super hati-hati dalam berperilaku, karena setiap perilaku itu mengandung konsekuensi-konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan. Kuketahui bahwa dengan menjadi sarjana bukanlah titik akhir perjalanan studiku, aku masih terus belajar life span..

wishing all my passion becoming true.

June 7th, 2008 at 11:18 pm


One Response to “megalomanic”
  1. 1
      pepe says:

    mbak boleh email ke aku ndak?
    aku butuh nasehat ni…..untuk orang yang seperti mbak hadapi
    tolong ya mbak