23 maret 2008
“Ce.. ke rumahku ya.. dan bawa bukumu untuk kubawa ke Hong Kong..” undang temanku, setelah beberapa kali aku sms mengatakan kalau bukuku diterbitkan. Akhirnya aku ke Ponorogo, sendirian.. senang bisa naik bis dan seperti biasa aku menikmati pemadangan di luar jendela, makanya aku lebih menyukai kendaraan dengan kaca bening karena kepalaku sedikit pusing kalau kacanya hitam.
Sudah beberapa kali aku diundang temanku yang pulang dari Hong Kong untuk berkunjung dan sebelum pulang mereka sering menanyakan “pesen apa Ce?”
hm.. yau laimat pei ngo ka?—ada kado untukku. Yup, yang pasti aku sangat suka sweater yang dari Hong Kong punya, aku mengoleksinya dengan warna2 muda dan cerah, mulai dari putih, krem, kuning muda, biru muda, orange muda dan aku masih belum punya yang hitam, akhirnya dapat deh…masih ada bandrolnya lagi.. mungkin karena badanku yang lebih menyukai udara hangat bahkan di surabaya yang terkenal panas aku masih bisa pake sweater-ku yang kebanyakan tipis sih, benangnya pun bukan yang jenis panas.
“Eh Ce, kamu dah buat desain pelatihan lagi? Teman-teman di Hong Kong butuh pelatihan seperti yang kamu kirimkan..” ucapnya suatu kali.
Aku pernah mengirimkan desain pelatihan dengan judul berpikir kreatif, hua… tapi aku udah lupa isinya gimana materi dan game-nya m keitak co lah, mungkin belajar lagi kale.. tapi buat desain kan tidak bisa dalam waktu singkat, aku harus hunting materi di perpus dan ngenet lalu mencari game yang sesuai refleksinya. Dan tentunya bahasa yang kupakai harus bisa dipahami audience nantinya.
“Ce.. nti kalau kamu tertarik filmkan aja desaku ini… di sini seperti bedol desa, hampir tiap keluarga ada anggotanya yang pergi ke HK, lalu selama tiga hari saat aku pulang gini harus open house memberikan titipan dan menyampaikan pesan dari keluarganya yang di HK, kami pun punya arisan bulanan yang mempertemukan kami di sana bla.. bla..
“ Hm.. teman-temanku udah film minded, setiap ketemu tanya mau buat film apa lagi, Hah..surprise, aku memang berniat buat film lagi tapi urusannya walaupun bukan hal yang rumit tapi juga tidak sesimple yang dibayangkan.
“kamu tuh jangan berpikir bahwa buat film menghabiskan biaya besar bla.. bla..” kata Pak Tonny Trimarsanto saat bertemu di Screendocs surabaya. Ya.. aku harus membuktikannya, mungkin pengalaman di eagle awards beda.. biaya pembuatan cukup besar karena memang workshop-nya sangat lux kelas VVIP deh.. tutornya udah kelas festival Internasional lah.. jadi kalau berpatokan darinya gak jadi-jadi produksi lah.
Saat bertemu Pak Lianto Luseno di kafe tenda taman Bungkul beberapa waktu yang lalu saat beliau shooting di Surabaya, kuungkapkan kalau dana adalah kendala utama untuk produksi lagi.
“Ya Udah sekarang aku tantang kamu, kusediakan uang dan sekarang juga produksi, mumpung disini juga ada Shamir dan kamera, kamu sudah punya shooting script.
” Hua… “makanya inilah yang jadi penyakit para pemula, gak kamu saja tapi mahasiswaku juga seperti itu, ngeluh saja.. tapi tidak mempersiapkan, riset yang mendalam dan buat floor plan, jadi siap diproduksi kapan saja.”
Yup, nice advise..para Shifu yang asyik buat diajak sharing ide dan pengalaman mereka. Mengapa aku mengikuti beberapa acara yang mendatangkan para tutor eagle yang kukenal itu di beberapa tempat?
Ya, karena aku menyukai dunia kreatif dari seorang film maker.. karena ilmu yang kudapat baru dari workshop eagle, semoga ada workshop lain yang bisa kuikuti..amien, dan sensasi yang kuterima saat penonton mengapresiasi film dokumenter yang timku buat bener2 menimbulkan efek ‘addicted’ untuk berkarya lagi.
Lebih dari itu menurut Shifu Shamir saat beliau kuliah di IKJ dan diberitahu oleh dosennya yang empunya dokumenter “membuat film dokumenter itu bisa dianalogikan, prosesnya yaitu riset sampai produksi dan post produksi adalah seperti ibu yang sedang hamil—mengandung anaknya, saat ditontonkan filmmu itu laksana anak yang kamu berikan pada mereka—anak ibarat pesan yang diberikan oleh seorang sutradara dengan sudut pandangnya.
Nah setelah selesai nonton, penonton akan membawa anak2 itu tentunya dalam pemikirannya mau diapakan terserah, mau dibesarkan dan tumbuh atau membunuhnya.
Sebagai filmmaker kamu dikatakan berhasil kalau anak-anak itu tumbuh besar hingga dewasa dan menghasilkan pemikiran bahkan perilaku seperti yang kamu pesankan di film-mu.”
Senang banget filmku diikutkan di acara screendocs traveling 2008, distribusi yang bagus mulai di Denpasar, Makassar, Medan, Padang, Jember, Surabaya dan Solo. Sedang bersamaan dengan bedah bukuku, setelah izin dari eagle dan in docs diizinkan screening di 8 tempat, Jombang, Surabaya, Solo dan Jogja. Dan bagiku akan tepat sasaran kalau bisa para helper melihatnya juga, mungkin perlu dibawa ke HK, semoga segera datang waktunya, amien.
“Ce.. kamu gak puter film mu ke HK, apa boleh dicopy dan ditonton di HK, belinya dimana Ce..” Hm.. gak dijual filmnya, ini produk non-komersil, juga tidak boleh dicopy, hak siar dan edukasi masih dipegang metrotv dan in-docs, mereka punya jaringan luas dan distribusinya cukup bagus. Hal yang selalu menyulitkan para pemula selain dana juga distribusi, tapi kalau tidak dimulai sekarang kapan lagi. Kita yang berhak memfilmkan tanah air kita dengan sudut pandang sebagai anak negeri yang ingin memajukan negerinya. Cie.. cinta tanah air bener kedengarannya. Ngo hou cungyi cou yannai yan, ngo seik cou noiyan thungmai anything what i wanna be.