Sehari setidaknya ada beberapa telpon yang takterjawab di handphone-q. Kubiarkan berdering karena nomornya tidak kukenal. Bukannya sombong tapi memang sudah tidak nyaman lagi dengan pertemanan yang tidak perlu. Dalam kamusku dulu aku memang mudah menerima siapa saja yang mau menjalin pertemanan denganku. Apalagi dalam psikologi, kalau kita bertemu dengan seseorang sikap empati itu harus dilakukan. Apalagi orang yang nyata-nyata meminta bantuan ke aku, aku akan dengan sukarela membantunya.
Kusebut dia fans gila. Fans gila itu julukan yang diberikan temenku pada seseorang yang pernah ngacak-ngacak kebiasaanku dan memutuskan komunikasiku dengan dunia luar.
Dia perempuan, bukan lelaki. Dia kakak angkatanku di psikologi.
Awalnya, karena aku tertarik dengan dunia jurnalistik dan dia ada diantara mereka yang aktif di jurnal sosial orkem di kampus yang aku tidak mengikutinya, karena idealisme kita beda dan aku lebih menyukai dunia penelitian dan bergabung dengan orkem yang lain, tapi karena dia di BEM maka aku sering ketemu dengannya.
Dia memberitahuku kalau dia sakit kanker darah stadium terakhir, lalu berwasiat memintaku untuk menggantikannya mengasuh adik-adik di daerah TPA Sukolilo untuk dibina. Terang saja nilai sosial yang dipunyainya membuatku respek terhadapnya. Aku mau bantu.
Dan aku mulai masuk ke dalam jebakannya, jebakan seorang fans gila. Sebenarnya yang kutahu dari diriku, aku selalu menjaga semua yang kulakukan benar-benar terkontrol tapi entah darimana datangnya aku begitu saja mau membantunya, bahkan aku dieksploitasi olehnya.
Langkah yang dilakukannya adalah ngekos di tempat kosku. Karena aku memasak jadinya aku berbagi sama dia, karena lihat dia kesakitankemudian aku bantu nyuciin bajunya. Saat aku pulang ke rumah, dia selalu ikut. Berteman dan bertemu dengan siapa dia selalu tahu. Yang semula aku masih bisa jalan-jalan, semisal minggu ini dengan si A dan hari lain dengan si B atau kalau lagi sendirian di kos aku kan tidur di kos temanku, maka kali ini aku sudah tidak bisa lagi.
Aku anggap wajar saja karena dia bilang sakit kanker darah, kadang dia terlihat seperti orang kesakitan dengan memegang kepalanya begitu rupa membuatku kasihan dan akhirnya aku batalin janji dengan teman-temanku karena nungguin dia.
Satu persatu temanku menghilang. Duniaku hanya sekitar kampus, magang di biro, kadang ngelesi anak-anak, kos dengan pekerjaan yang menumpuk. Karena dia satu kamar denganku maka tentunya aku sangat tidak suka dengan keadaan kamar yang kotor.
Satu persatu aku bertemu dengan teman-temannya. Dia mewanti-wantiku untuk tidka bilang sama teman-temannya tentang sakitnya karena tidak ingin dikasihani. Tapi perilakunya sudah bikin aku sesak.
Dia sering pinjam dan meminta sms dariku, ternyata : dia sering telpon dan sms ke teman-temanku yang membuat teman-temanku bete dan kesel padaku. Finally, aku ke psikiater karena kebingungan dengan kenyataan itu. Di Mei 2007, aku ke dokter Sungkar.. aku tidak berani ke biro tempatku magang, walaupun atasanku adalah para psikolog keluaran UGM tapi aku tidak mau terlihat lemah dihadapan mereka, jadi kupilih ke prakteknya dokter Sungkar.
Aku tidak punya kebebasan untuk sekedar dekat dan bincang-bincang dengan keluargaku (makanya sekarang aku klo libur walopun sebentar pasti akan pulang karena aku pernah rasain gak enaknya tidak punya kebebasan). Teman dekatku menikah gara-gara ditelpon oleh dia (ngaku sebagai aku) klo aku menikah di akhir tahun 2006, dan begitu mudahnya mereka percaya alau yang telpon dan sms itu aku.
Sepi dan sendiri, kadang ketemu si A lalu gak disapa, ketemu si B tiba-tiba buru-buru pergi, sepertinya aku membawa penyakit kutukan saja yang harus dihindari dan dijauhi. Karena tak mengerti mencari jalan keluarnya. Kuhubungi kakakq yang lagi ngejar doktoralnya di Amerika, aku memintanya mencarikan kerjaan sebagai nanny dengan upah yaitu aku disekolahkan bahasa inggris di sana. Akhirnya dapet, keluarga amerika muslim mam Sarah yang bersuamikan orang korea muslim. Anaknya 6 dan syaratnya aku juga berkerudung serta membantunya di sekolahan muslim yang dia dirikan bersama dengan keluarga muslim lainnya.
Dan setelahnya masih banyak teman-temanku yang diteror oleh dia, jadi kuputuskan untuk pindah kost di kost yang lebih elit di desember karena aku sudah terlalu lelah dan capek dengan bualan dan kebohongan-kebohongannya. Akhire aku bisa kembali ke peredaran setelah hilang beberapa saat. Dan teman-temanku membantuku untuk menjauhkanku dari jangkauan fans gila itu. Dan teman-teman di awal kuliah kembali lagi dekat dengaku… akupun menikmati dunia baruku setelah lulus kuliah ini dengan damai.
Walaupun kadang ke bioskop sendiri, karena nunggu jadwal nonton dengan teman-temanku sangat sibuk, aku bisa mengatakan bahwa sedetik itu lebih berharga di saat jiwa kita merdeka.. aku menikmatinya karena aku pernah merasakan gimana tersiksanya jiwa terpenjara dan dikungkung oleh kata posesif yang tidak pada tempatnya.
Mungkin bisa kukatakan hidupku lebih terselamatkan dari perburuan fans gila itu karena ada teman2 yang mendukungku, tak ingin kehilanganku lagi dari orbit mereka, juga karena ikatan pertemanan yang lalu telah mendewasakan kami untuk lebih saling menjaga dari perusakan jiwa manusia yang sakit seperti yang dimiliki fans gila itu. Mengapa juga harus aku Bo sengsara bertemankan orang gila?!
Mungkin biar bisa difilmkan kata temanku. Ha ha ha…