<

perempuan datang atas nama cinta

bunda pergi karna cinta

digenangi air racun jingga dalam wajahmu

seperti bulan lelap tidur di hatimu

yang berdinding kelam dan kedinginan

ada apa dengannya

meninggalkan hati untuk dicaci

lalu skali ini aku lihat

karya surga dari mata seorang hawa

ada apa dengan cinta

tapi aku pasti akan kembali

dalam satu purnama

untuk mempertanyakan kembali cintanya

bukan untuknya

bukan untuk siapa

tapi untukku

karna aku ingin kamu

itu saja

(ini lagi nostalgia dgn film aadc)

Baru sekarang aku bersyukur dan bisa menikmati peranku sebagai perempuan. Dulu, dengan terlahir sebagai perempuan bagiku sangat menyiksa. Sebut saja alasan pertama pakai kerudung di sma karena aku tidak ingin dilecehkan lagi oleh para cowok yang tidak kukenal di sepanjang perjalananku bersepeda. Di saat sd dan smp aku merasa sangat tersiksa dan ketakutan untuk bilang pada ibuku bahwa di setiap aku bersepeda ke sekolah, ke tempat ngaji atau ke toko desa sebelah di tengah perjalanan aku sering mendapatkan pelecehan dari para cowok-cowok.

Aku tak mengerti kalau itu bentuk pelecehan karena mentowel beberapa bagian tubuhku lalu berhambur pergi serta mengatakan hal-hal yang tidak senonoh adalah bentuk tindakan yang tidak menyenangkan. Aku bingung, apa ada yang salah dengan diriku, apa karena aku perempuan?

Mengapa banyak cowok yang melakukan itu padaku? Apanya yang salah? Perasaan marah dan jengkel pun tambah berkecamuk. Apaan sih! Towal-towel seenaknya. Kadang dengan santainya mereka berada di boncengan sepedaku dan lalu mentowelku.  ‘just shit with them!’ nangis aku! Tak tahu harus bagaimana.

Akhirnya kubawa jarum pentul selalu di tas sekolahku jaga-jaga bila mereka mendekat akan aku tusuk dengan jarum itu. Tapi lagi-lagi aku selalu terlambat mengeluarkan jarumku dari tas, keburu serangan tiba-tiba dari mereka.

Tak terhitung berapa kali aku merasa tersiksa dengan kebiasaan para cowok tetangga desaku itu, akhire aku ikutan martial art ‘pencak silat’ ha ha, biar aku bisa tarung dengan mereka. Kenapa selalu aku yang dihadang di tengah jalan, bukan yang lain? Memang jalan menuju rumahku harus melewati kebun tebu dan sungai, dan aku sering pulang sendirian karena gak ada yang sedesa denganku.

Perempuan, seandainya ibuku lebih banyak berbicara denganku dan menjelaskan apa yang tidak kuketahui mungkin aku bisa bersikap dengan baik terhadap mereka yang bagiku waktu itu mereka sebagai cowok brengsek yang terus mengganggu.

Yang aku sadari sekarang adalah memang perempuan dilahirkan sebagai makhluk yang cantik, bahkan sangat cantik. Banyak keistimewaan yang dia punya bahkan bila perempuan sudah bisa mengedepankan logika maka eksistensinya akan diakui dalam peran apapun yang diembannya.

Yup, aku baru menyadari dan sudah seharusnya mensyukuri, dilahirkan sebagai perempuan yang menarik. Pandai jaga diri saja karena menarik itu udah lekat dengan perempuan, jadi masih kecil saja sudah menarik teman kecil lawan jenisnya apalagi saat bertambah usia dan dengan bentuk tubuh yang tumbuh menjadi perempuan dewasa, tambah menarik lagi.

Perempuan, dari bentuknya saja sudah buat orang tertarik, palagi dari segi lainnya, pemikirannya, suaranya, perilakunya, sifatnya, karakternya, yup…

July 1st, 2008 at 10:32 pm