Kulari ke hutan kemudian menyanyiku
Kulari ke pantai kemudian teriakku
Sepi sepi dan sendiri aku benci
Aku ingin bingar
Aku mau di pasar
Bosan aku dengan penat
Dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga bila kusendiri
Pecahkan saja gelasnya biar ramai
Biar mengaduh sampai gaduh
Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang
Di tembok keraton putih
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya
Biar terdera
Atau aku harus lari ke hutan
Belok ke pantai
(masih inget puisi di film AADC?)
“Jujur, tak ada perasaan istimewa di hatiku yang ada adalah simpati karena perjuanganmu dalam hidup. Kamu adalah wanita yang paling tegar yang pernah kutemui…aku yakin kamu akan sukses dan bisa diandalkan untuk negeri ini! Kamu punya jiwa sosial yang tinggi, cantik, kerjaan mapan, pandai dan wanita sempurna. Hatiku telah tertambat pada yang lain, walaupun sebenarnya gadis itu belum punya ikatan apapun denganku. Tapi aku mau ke Jogja melamarnya untuk kujadikan istriku” penolakan yang keluar dari mulut kekasih pujaannya.
“Atau memang benar pernikahan itu milik orang lain bukan untukku?” ucap seorang teman diujung usianya yang ke sekian. Dia mahasiswa angkatan 88. kami bertemu karena urusan riset proyek filmku. Yeah.. hembusan nafas panjang itu sengaja kuhempaskan karena aku memahami gimana sepinya dunia yang ia jalani sekarang ini. Aku sering menghabiskan waktu berjam-jam mendengarkan keluhan permasalahan romance dari teman-temanku, ya gitu deh gratis konselingnya ha ha…kadang traktiran karena curhatnya di cafe, atau warung lesehan di seputaran surabaya…
Untuk urusan romance, aku bukan ahlinya… di psikologi pernah ada bab tersendiri tentang cinta, tapi sungguh aku gak paham dengannya. Yang kupahami sikap yang harus dimiliki seorang perempuan adalah wajar saja, jangan terlalu ge-er, berpikir yang realistis dan tidak maksa-maksain kehendak, cukup!
Dan aku percaya dengan suggestion. Maka sering ada yang bertanya tentang sebuah permasalahan tentang itu dan jawabku “coba disugesti saja” ya… kata dosenku visualisasi adalah kegiatan berpikir yang paling tinggi, karena seluruh bagian otak bekerja seperti hal yang divisualisasikan telah menjadi kenyataan. Apa hal itu jatuhnya termasuk angan-angan, ya… (untuk urusan itu aku bukan ahlinya juga). Hanya saja, kita kan boleh berusaha saja. Jika orangnya baik dan all certain criterion ada padanya, bolehkan mensugestinya jadi teman hidup dan bagi yang punya aliran tidak berpacaran sebelum menikah menurutku syah-syah saja melakukan sugesti. Toh orang itu pantas untuk diperjuangkan.
“Tapi setelah ditolak oleh dia aku jadi malas untuk mulai menyukai seseorang! Takut bertepuk dengan tembok” sebuah pernyataan putus asa dari seorang perempuan lajang setengah baya yang eksis di kerjaannya. (ha..ha gak sendirian sist, aku juga pernah berteman dan berkomunikasi dengan orang yang karakternya kaya tembok, kaya bicara dengan tembok)
Apa ya yang bisa kuucapkan lagi selain ya jadi pendengar saja. Dia sangat pandai, teman-temannya banyak, lalu apalagi? Mungkin dia harus merevisi standar kriteria untuk pasangannya, ya yang fleksibel saja yang penting menjadi asyik dengan menjalin hubungan dengan para lelaki itu.
“dengan asyik saja.. dan semua mengasyikkan, tapi yang kubutuhkan adalah dilamar”jawab perempuan itu
He.. akupun nyengir. Kalau dilacak menurut Maslow dengan hierarki needs-nya, dia sudah mencapai kebutuhan puncak need of actualization tapi based need-nya masih belum terpuaskan sehingga ada ketidakseimbangan dalam hidupnya. Tapi kembali ke kata-kata yang kadang dianggap basi oleh orang-orang yang lagi suntuk menuju putus asa yaitu grateful—kesyukuran. Bahwa dengan melajang tentunya banyak kegiatan sosial yang telah dia lakukan yang tidak bisa dikerjakan dengan leluasa saat dia telah married.
Karena point of fiew-ku dengannya hampir sama memandang kemanfaatan hidup dengan kacamata sosial maka kalimat itu kuajukan padanya. Dan sesaat yang lalu ia pun kembali menikmati hidupnya dan pertemanannya, sugesti saja keinginanmu.. visualisasikan dan Tuhan pun pasti akan menjawabnya…