I knew the price that i’ve paid and all consequences…
Suara James Blunt akhir-akhir ini nyaman di telingaku, makanya berulangkali lagu-lagunya kuputar dan kudengarkan.
Lama banget aku gak menulis, yeah aku lebih suka menulisnya di sini, dengan alasan karena jarang yang tahu ini adalah blogku..
kalau kuhitung-hitung aku memang sudah beberapa kali jatuh cinta, tapi semuanya belum bernah berakhir dengan hubungan yang jelas dan komitment yang pasti untuk saling berbagi…
awal dia mencuri perhatianku saat aku sedang kesakitan menikmati kesepian karena lelaki yang kusuka tidak lagi memperhatikanku karena memang banyak kebingungan di hidupku saat itu untuk prioritaskan yang mana. dia hadir di saat hatiku hampir mati lalu membuatku kembali punya harapan, kembali belajar senyum setelah beberapa kesedihan. Benar, dia membuatku kembali tersenyum bahkan tertawa kecil, menginspirasiku di beberapa babak hidupku..
dia bisa memberikanku cahaya di saat aku terjatuh di kegelapan yang tidak kutahu kapan berakhirnya dan sedalam apa, aku pun berusaha meraih tangannya yang entah sudah terulur atau aku yang mengulurkannya terlebih dulu.
sekali kuucapkan ‘toei pu ci, wo ai ni’, sepanjang hidupku saat itu ternyata bukanlah hal yang indah lagi karena dia membuatku semakin tergila-gila karena kepandaiannya, kecerdasannya dan beberapa kenangan yang tak lagi kuhiraukan sekarang, serta ketaatannya pada Tuhanku dan Tuhannya.
Dia ternyata membuatku menikmati semuanya, pahit manis dan getir yang hanya kurasakan sendiri, pada suatu kesimpulan bahwa hanya aku yang merasakannya dan akhirnya aku membencinya, kuucapkan rasa benci karena harus setiap hari memikirkannya sendiri dan tidak bisa konsentrasi dan sadar dengan kenyataan. Dia jauh dan dia bukanlah orang terindah di hidupku, karena dia tidak mengenaliku, semua tuduhan kejamnya membuatku paham bahwa dia murka padaku, padaku dan hanya padaku.
Dengan kekesalan yang tak juga menghilang, akupun membenci diriku yang telah membencinya, padahal benci itu tak pernah ada, aku hanya berusaha menyadarkan diriku dari mimpi yang tiada pasti, bahwa memang dia bukan untukku, tapi yang terjadi malah mengacaukan semuanya. I have no bravery being happy, only sadness until this day..
Aku berpikir kenapa Tuhan tidak menjagaku saat itu, membiarkanku berada dalam keadaan buruk itu, padahal beberapa kali aku meminta agar menjaga semuanya baik-baik saja.
Dadaku sempat sesak dan sepanjang malam menangis dengan segudang pertanyaan, mengapa menjadi sulit begini, aku pun ingin membuat keputusan terbesar di hidupku:
daripada bingung dan sedih berkepanjangan, bahkan menginginkan kematian, kupilih untuk memperbaiki diri saja, mungkin kalau aku memperbaiki diri setidaknya aku bersyukur dengan apa anugerah Tuhan berikan padaku. Dan dia tetap orang terindah…
my office, 24 april 09 18:55