Dadaku sesak,
dalamnya terasa sakit
dan biasanya aku bilang ah,
hatiku sakit..sakit banget…
bahkan untuk menghela nafas pun terasa lebih sesak.
Mbak ku bilang “semua itu akan mendewasakanmu”
berarti aku masih belum dewasa dong selama ini?
masak sih aku belum dewasa? mentalku belum terlalu kuat?
menghadapi terpaan angin atau badai?
Aku bukanlah tipe orang nyantai, yang bisa menghadapi kemurkaan orang dengan senyuman, aku biasa memendamnya segala sakit2 itu walaupun sepanjang hidupku, aku belum pernah bisa untuk marah ataupun mendendam dengan membabi buta pada orang2 yang menyakitiku. Tapi kenapa dibilang aku mendendam dan penuh sakit hati ya?
Aku selalu membenci diriku sendiri, kenapa hidupku tidak selurus dan senyantai teman yang lain. Bahkan saat sobatku yang kuanggap teman baikku menusukku dari belakang dengan mengganggu hidupku dan posesif dengan hidupku, aku menganggapnya bukan salah dia tapi salahku yang tidak tanggap dengan keadaan, aku yang merelakan diriku diperlakukan demikian, padahal awalnya kulakukan karena menghargai kemanusiaan, nyawa dia yang sakit leukimia stadium akhir, trus dengan keseriusannya berobat sampai tidak kuliah : apa salah jika tiap hari aku yang memasakkannya masakan sehat, mencucikan bajunya ah…sepertinya aku tidak rela klo mengingat waktu itu, ternyata semuanya bohong.
Aku kesal dan menanyakan pada Tuhan, kenapa Dia mengijinkan semua itu terjadi di hidupku, kenapa aku yang tulus sebagai sahabat malah diperalat sedemikian rupa, salah apa aku pada Tuhan, bukankah selama menjadi hambanya aku berusaha selalu patuh?
bukannya sebagai anak aku berusaha berbakti?
sebagai temanpun aku berusaha baik?
Ya…akhirnya aku terus berdoa agar diberi jalan keluar, bukankah orang yang terzalimi doanya mudah dikabulkan Tuhan. Dan awal dari hidupku dimulai dari anugerah Tuhan mengirimku ke eagle di tahun 2007. Tapi kekacauan dalam hidup itu belum berakhir juga hingga aku jauh dari sahabat gila dan tak waras itu!
Setahun, akhirnya aku ngamuk ke dia menanggapi sms-nya dan email2nya yang setahun kubiarkan. Kubilang : Please, jangan sok penting deh di hidupku, megalomanic! Jangan ganggu hidupku lagi, juga teman2ku! cukup sudah si A, B, C, D, E kamu kacau hidupnya dengan mengirim email ato sms atas namaku yang nomornya kamu curi dari hp-ku!
Dia pun membalas “emang aku curi nomor mereka dari hp-mu, tapi setelah kamu hapus, aku dapatkan lagi dari yang lain, memang salah menghubungi teman-temanmu, aku kenal baik dengan si X, aku pernah ngobrol lama dengannya!”
lalu kubalas lagi “sekali lagi please, jangan ganggu hidupku lagi, aku dah muak dan pingin muntah dengan sikapmu, megalomanic!”
Kupikir itu adalah kata-kata kasar yang sudah kukumpulkan, perlukah kutambahkan janc*k ato f*ck lagi, karena itu pernah kuucapkan di depanmu juga tidak berpengaruh dasar binatang, tak punya otak, bisanya menyakiti orang saja.
Tapi aku punya cara untuk menyakitinya juga : tidak merespon apapun yang dia lakukan, mau minta maaf seribu kali juga gak akan kubalas, sms dengan nama orang lain ingin janjian ketemu, email apalagi….
Selanjutnya dia pun menghubungi beberapa teman-temanku di jakarta, memfitnah sana sini dan modusnya tetap : bilang kalau aku telah menikah dengan si A, kadang dengan si B, lalu mengecam dan memfitnah dia adalah pacarku…ah Tuhan, kalau kamu gak mau ngasih aku kekasih ya please jangan kirimkan orang gila ini di hidupku..my life like nightmare…
Akhirnya aku baru menemukan doa yang tepat untuk kulafalkan, terinspirasi oleh kemurkaan teman lain padaku : Please save me from this evil, pathological lier..and i believe this time God will save me..
Dia adalah perempuan bukan laki-laki…
May 19, 2009 @ 3:35 amWhat a life!