Tergabung dengan festival film anak-anak, membuatku lebih menikmati hidupku. Ada sebagian anak-anak yang bisa menikmati indahnya masa kecil mereka dengan tawa dan bermain, tapi ada juga yang sibuk dengan masalah-masalah orang dewasa yang dilimpahkan kepadanya. Itu sebabnya ada anak-anak yang memang pny privilege and under privilege. Mengutip ucapan yang disebutkan rekan bosku, diantaranya kesempatan untuk belajar diberikan padaku karena aku bagian dari under privilege itu…
Ya, kuakui…klo aku lagi ingin sesuatu maka pasti akan kukejar sampe dapat, dengan cara-cara yang kuakui adalah bagian dari usaha.. (usaha terbesarku adalah berdo’a, krn kunci dari hidup ini dan segala kuasa hanya milik Tuhan, sang pencipta dunia). Kembali lagi, sebelum bertemu dan diundang untuk ikut workshop masterclass project change, aku telah kirimkan banyak proposal produksi film ke HK diantaranya : ke KJRI, Pak Sam–pemilik tabloid Intermezo HK, ke beberapa organisasi di HK, ke PJTKI, ke calon gubernur Jatim bu khofifah o’ow…
waktu itu sempat membuat kelompok dgn 2 org tmnku sesama pengajar, tapi sayang seribu sayang, kupercayakan ngubungi salah satu sponsor tapi malah dia yang ngaku yang buat proposal, yang bakalan nyutradarain, yg nyari kru dsb…ya, bukan seperti itu carannya meyakinkan produser Bu..arghhhh klo gak tahu jangan sok tahu deh, sebel bgt krn sbnrnya pernah ku chatting dgn si sponsor tsb dan udah ada lampu hijau, tapi ya aku gak tahu ya bo’ temanku bicara apa saja dengan sponsor itu, mungkin belum rizki, dan ya sudahlah semua berjalan, dan proposalku menemukan takdirnya sendiri…
Lagi ke film anak : aku sama temanku sedang menulis script utk dokudrama ttg KDRT, ya moga banyak yang mo bantuin karena ya tetep kami minim budget dan rencananya pake talent anak-anak bekas kdrt, ato street kids. Yeah, I’ll dedicate this movie for children tapi film ini target penontonnya adalah para orang tua, yang tak sadar melakukan kekerasan pada anak-anaknya..
Thanks God, still give me healthy and live for making this movie…