Betapa hidup ini tidak adil bagi sebagian orang..
Aku masih bosan untuk mengiyakan takdir Tuhan tentang kaya dan miskin. Kaya dengan segala fasilitas yang dipunyainya, kemudahan hidup dengan tanpa banyak usaha. Dan miskin dengan segala kesulitannya menjalani hidup bahkan untuk bertahan hidup, menjalani dengan senang dan mensyukuri keadaan yang diberikan Tuhan padanya.
Mengapa sih hidup menjadi begitu tidak adil bagi mereka yang miskin.
“Mbak harusnya ngekos dengan mencari teman, jangan sendirian nanti mahal, lumayan bisa ditanggung berdua bertiga dengan temannya”
Kata penjual bakso itu, dia bilang tinggal sendirian di jalan anggrek, di mushollah. Sedangkan anak-anaknya tinggal di bandung, ujung pandang, manado, ciputat..entah mereka bekerja menjadi apa? Sedangkan bapak tua itu sudah kumal pakaiannya, hitam kulitnya, giginya habis lalu masih harus bekerja untuk mengidupi dirinya..
aku jadi bosan lagi dengan ketidak adilan dunia..
Apakah mereka merasakan hal yang sama denganku, ataukah karena mereka sudah terbiasa dengan kesusahan maka tidak merasakan bahwa hidup mereka begitu sengsara. Lalu yang mereka pikirkan adalah sudah sewajarnya mereka hidup sengsara karena mereka hanya tamatan SD atau tidak sekolah sama sekali..
Lalu apa gunanya Negara, semuanya membuatku muak dengan kehidupan tanpa kesejahteraan bagi semua warganya..
Tuhan, aku benci dengan Negara ini..semua penguasa berlomba-lomba mendapatkan suara agar memilihnya tapi kemudian saat diserahi tanggungjawab mereka hanya menikmati fasilitas lalu melupakan kepentingan rakyat yang harus diperjuangkan.
Awalnya aku kelaparan lalu mencari penjualnya, dimana ya? Ada rombong tapi kok gak ada penjualnya, pun gak ada tulisannya lagi jualan apa? Ternyata yang jualan udah cukup tua untuk sekedar mengangkut rombongnya di pundaknya.
Pertanyaan2 yg kubatin saja dan tak mungkin berani keluar dari mulutku pada pak tua itu:
- bahagiakah kamu dengan profesimu sebagai penjual bakso keliling yang harus mengangkutnya dengan pundakmu?
- kemana masa mudamu kau habiskan sehingga di usia senjamu masih kerja keras?
- dimana anak-anakmu, tidakkah mereka dulu kau didik agar membantumu diusia senjamu?
- apakah kamu khawatir dengan masa tuamu saat kamu sakit dan tidak ada yang merawatmu?
- apakah kamu percaya dengan Tuhan bahwa dia sayang padamu?
- apa yang kamu tahu tentang hidup ini?
- kalau kamu mati apa yang ingin kamu tinggalkan untuk anak-anakmu?
Angin berhembus semilir di setiap sudut kota Jakarta. Begitu juga mentari yang sinarnya lembut menerpa wajahku. Sore ini begitu menggodaku untuk mengayuh sepedaku keliling kompleks di kawasan jalan MPR. Kompleks yang dipenuhi rumah-rumah mewah yang penghuninya katanya adalah mereka yang menjadi wakil rakyat.
Sebenarnya apa kerjaan mereka ya?