<

Sepertinya bakal susah usahaku untuk melupakannya. Aku telah menikmatinya, mulai dari senyumnya, hal-hal yang remeh darinya tapi bagiku berkesan banget, gurauannya, keindahan hatinya, suaranya, bahkan murkanya.

Pingin banget ngeliatnya sebel di hadapanku. Bukan tanpa sebab, karena seringnya tak pernah kujumpai mukanya sebel di hadapanku. Kesebelannya hanya tampak di tulisan dan suara. 

Akupun mulai memetakan hidupku, memberikannya ruang di hatiku, semoga saja porsinya tetap sama …% dari cinta yang kupunya, tapi temanku bilang sudah lebih karena aku lebih suka memikirkannya daripada memikirkan diriku. Tapi itu tak benar, aku akan berusaha selogis mungkin.

Bukankah cinta itu netral dan membuat kita produktif, jadi pijakan akan makna cinta inilah yang membuatku tetap menyimpan rasa ini padanya. Mbak Viv pernah bilang, di saat aku benar-benar muak akan judgement mr x padaku, karena semua yang dikatannya sebagian besar gak benar menurut hatiku, “makanya Ni’… itu pelajaran bagimu, jangan semua hal kamu ceritakan pada orang yang kamu sayangi sekalipun, ada hal-hal yang hanya dirimu dan tuhan saja yang tahu, coba sisakan sedikit skeptis dalam ruang pertemananmu dengannya. Ingat hidup itu dinamis Ni’… Dan, yang pertama harus kamu lakukan adalah menerima apa yang mr x katakan, renungi dengan jujur, jangan-jangan benar apa yang dikatakannya. Oh ya, jadi perasaanmu padanya seperti apa? Kamu marah karena tidak dipedulikan : gila nih cowo dah disukai dengan tulus bukannya menghormati atau menolak dengan baik-baik tapi malah bicara yang tidak-tidak, kamu takut sama dia atau kamu kesal sama dia?”

Yup jawabanku ” Aku sih menerima apa pun konsekuensi dari rasa yang kupunya, toh aku juga tidak memintanya, cinta dan kagum itu hadir begitu saja, karena aku menyukainya detil demi detil sikapnya telah memikat hatiku. So, perasaanku bukan sebuah kesalahan. Kalau takut sih nggak lah Mbak, karena aku tak pernah takut utk hal-hal yg kuyakini benar, ato aku merasa benar tidak sesuai dengan tuduhannya. Mungkin lebih pada perasaan kesal, tega banget sih ngatain aku seburuk itu! Sepertinya aku benar2 terhina di hadapannya. Kalaupun aku seburuk itu, bisa kan bicara baik-baik, dan kalau dia berbaik hati pastinya inginkan aku berubah kalau benar aku seburuk itu! Akhirnya aku jawab saja TERSERAH, apa saja yang mau dikatakan ya terserah, mau dijelaskan toh jawaban dia “I dont care..” Lalu aku harus gimana lagi sista?”

“Tenang Ni’… kamu tenangin diri dulu, kita kerja di luar kantor aja ya, di Gramedia Cafe HI aja, ntar meeting sama Tam lalu meeting dengan Ad agency Y&R di Kemang…”

Yup, nice suggestion… apa yang dikatakan sista-q itu sama dengan yang pernah mr x katakan padaku, “kamu tak perlu mengatakan padaku hasilnya, cukup kejujuran hatimu menelaah sikapmu”. 

Banyak kebetulan-kebetulan yang tak sengaja terangkai, dan semoga banyak kebetulan yang menyenangkan di hidupku dan hari-hariku, walo di awal aku sangat tdk percaya akan kebetulan, krn semuanya telah direncanakan Tuhan, tapi mungkin lebih baik skrg prcaya pd kbetulan, make it easy gal…

Kenapa aku harus bicara dengan Mbak Viv, karena dia telah membuka dirinya berperan sebagai sista-q, yang selalu menginginkan kebaikan dan meyakinkanku bahwa setiap episode hidup adalah pelajaran, yang kadang aku lupa karena mentalku tak sekuat mereka… Aku mulai bicara ttg mr x, karena aku tak sanggup sendiri menghadapinya, sebuah tamparan berat perkataannya tajam seperti menyayat nadiku hingga mau putus, karena aku tak pernah menyangkanya…

“Ni’ kalau kamu takut nanti diinjak2 lho sama mereka…”masih terngiang perkataan Teteh saat kutanyakan padanya, knapa ya aku sering takut dan nervous klo Teteh ada di sampingku, takut salah…hm… Tapi sekarang sudah lebih rilex, karena dia sista juga… Thanks atas perhatiannya…

Tentang syndrom mr x chronic itu, sepertinya energinya akan aku salurkan untuk menulis dan melukiskannya lebih dalam lagi, karena cinta itu produktif, dan semoga akan ada karya karena mr x always inspiring me…

June 21st, 2009 at 9:21 pm