Perempuan sebagai Agen Perubahan dalam Pembangunan
“PAHLAWAN DEVISA”
Indonesia mengirim lebih dari 400rb buruh migrant setiap tahun ke berbagai Negara kawasan asia pacific dan timur tengah. Jika dibandingkan dengan jumlah buruh migrant laki-laki , buruh migrant perempuan mencapai perempuan mencapai lebih dari 72%. Dengan total devisa yang dihasilkan dari tahun 2003 sampai dengan 2008 TKI telah menyumbang devisa bagi Indonesia sebesar 167 Milliar rupiah.
Jumlah devisa yang disumbangkan kepada Negara pada kenyataan tidak sesuai dengan kenyaataan yang diterima oleh para TKI di Negara migran. Sebagai contoh yang dialami oleh rekan TKW, saat bekerja di Hongkong sebagai seorang House Helper.
Bagi pekerja
- Gaji tiap bulan HKD 3580 sepadan dengan Rp 5 juta.
Dulu pemikiran saya sangat simple : saya ke luar negeri mendapat gelar pahlawan devisa bagi negara saya, yang tiap tahun menambah penghasilan negara, tapi pada kenyataannya banyak ketidakadilan kami terima saat menjadi TKW. Seperti gaji underpay, potongan gaji selama 7 bulan, passport dipegang agensi, kurangnya pembekalan tentang budaya negara tujuan dan skill termasuk bahasa, adanya terminal tiga dengan pungutan liarnya.
Jadi istilah pahlawan devisa yang merupakan aksesoris dari pembangunan, ternyata tidak mempunyai efek merubah secara substansial bagi kami.
- tempelan yang tampak sangat indah : disebut pahlawan, mengerti teknologi, ikut-ikutan mode
– posisi lebih baik atau setara (tidak terjadi)
Devisa : hal-hal termasuk dalam pengertian devisa sbb: a. Emas(mata uang emas,bahan mata uang emas yang belum diolah) b. Alat alat pembayaran luar negri c. Surat-surat berharga luar negri seperti cek,wesel,promes dsb d. Piutang luar negri e. Benda tidak berujud di luar negri f. Benda bergerak dan tidak bergerak di luar negri Dari pengertian tersebut diatas ternyata pengertian devisa tidak hanya terbatas pada mata uang asing saja,tetapi termasuk juga benda bergerak dan tidak bergerak.
Sementara bagi negara seperti Hongkong keberadaan TKW/TKI Indonesia cukup membantu penduduk yang sebagaian besar bekerja di luar rumah. Dengan jumlah penduduk 7 juta jiwa, saat ini ada sekitar 120.000 TKW asal Indonesia. Salah satu warga Hongkong, berkata ” If there’s no domestic helper, I cant go out to work and I have to stay at home. I want to go out to work, and to earn some more money, to support the family. This is a very very good chance to the Hongkong women can go out to work. ” Bagi mereka, keberadaan para TKW merupakan penggerak perekonomian di Hongkong. Tanpa keberadaan para TKW, perekonomian Hongkong dapat lumpuh.
Perempuan sebagai Agen Perubahan
Perempuan sebagai agen perubahan, berarti haruslah memiliki kemampuan yang baik . Oleh karena itu perlu ditempa dengan pendidikan yang memadai. Perbaikan nasib dengan menjadi seorang TKW menjadi awal bagi Ani untuk melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
Pendidikan dapat memutus rantai kemiskinan, merupakan sebuah kata dari guru SMA saya yang hingga kini melekat. Dengan pendidikan tinggi setidaknya terbuka peluang lebih luas untuk memasuki dunia kerja, hal ini tidak luput dari pengalaman juga. Dengan ijazah SMA saya hanya bisa jadi buruh kontrak di pabrik.
Pendidikan dan kemampuan untuk menyampaikan ide, yang akhirnya mampu menggerakkan orang lain menjadi hal yang penting kita lakukan. Bagi saya pribadi, yang memiliki pengalaman sebagai seorang TKW asal Hongkong. Menuliskan pengalaman saya, selama saya di Hongkong dan melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjutnya guna memutus rantai kemiskinan menjadi suatu hal yang penting.
Berawal dari kegemaran saya menulis, saya dan rekan saya–Yunnie Dhevie Hapsari, kemudian mengirimkan proposal cerita ke ajang Festival Film Dokumenter Eagle Award yang diselenggarakan oleh Metro Tv. Proposal ini yang awalnya dikirim dalam jangka waktu yang sebentar, akhirnya berhasil masuk menjadi finalis. Film yang berjudul Helper Hongkong Ngampus“ ini ternyata mampu memberikan sudut berbeda akan keberadaan TKW di Indonesia yang mampu memperbaiki nasibnya dengan mengejar pendidikan yang lebih tinggi. Sekaligus mampu menginspirasi banyak orang untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dan bekerja lebih baik lagi.
Kedahsyatan sebuah film sebagai medium Audio Visual, merupaka sebuah potret realita yang bisa menggugah orang untuk lebih baik dalam hidupnya. Akhirnya saya tersadar melalui film kita bisa menangkap realita-realita dari masyarakat dan dapat menginspirasi banyak orang.
Setelah berhasil menghasilkan sebuah film dokumenter, saya mengikuti workshop yang diadakan oleh Kalyanashira yang digaungi oleh Nia Dinata. Proposal film mengenai kehidupan TKW Hongkong yang relatif modern namun disatu sisi mereka masih belum memiliki otonomi terhadap keinginan dan tubuh mereka. Melalui film „Mengusahakan Cinta“ yang dibuat dalam project Change, Saya dapat melihat hal menarik dari seorang perempuan. Perempuan dengan pengalaman riil dan konflik personal mereka, apa saja kontrol terhadap perempuan dan bagaimana perempuan menggunakan ruang pribadi mereka untuk bersuara atau mengubah dunia.
Dari subyek yang saya angkat dari film dokumenter yang saya buat, Dan dari mereka saya bahkan subyek saya jadi belajar , bagaimana secara subtansi perempuan sudah membuat perubahan ke arah yang lebih maju bagi dirinya sendiri. Kemampuan seorang perempuan dalam menumbuhkan kekuatan dalam dirinya dalam mengambil keputusan bagi dirinya sendiri atau secara tidak sadar membuat pilihan karena sekedar life style, aksesories atau ikut arus sosial.
Dari dua film dokumenter yang saya buat,memperlihatkan bahwa perempuan memiliki kekuatan tersendiri untuk menjadi seorang agen perubahan. Namun terkadang terbentur dengan nilai-nilai dan struktur sosial masyarat yang berada disekelilingnya.
Perempuan mampu memimpin perubahan dan itu dapat dimulai dengan menentukan pilihan yang sesuai dengan kata hati seorang perempuan.
Notes : Terus nonton filem deh…seneng banget liat reaksi mereka…
Ternyata mereka banyak yang kurang tahu kehidupan para tenaga migran Indonesia, pertanyaan yang mereka ajukan lumayan kritis, tentunya aku didampingi dosen aslinya ya bow…
Pernah saat menjelang wisuda 2008, aku sedikit exhausted dan mengeluh pada mister x tentang pemikiran sempit orang yang ngakunya aktivis ne “tak tahunya hahaha” bahwa yg aku lakukan adalah mengeksploitasi diri dengan mjd ex-TKW… His wise thought : Batasan eksploitasi itu apa? Gak ada salahnya mengeksploitasi diri sendiri, daripada mencari2 sumber eksploitasi orang lain… Dan fyi aja ya: semua subyek film-ku sangat welcome sharing their experience…
notes khusus perempuan gila yang selalu mengganggu hidupku : Ngaca ya Bo’… bukan urusan lo mau gw mo buat film tentang TKW maupun tentang hal lain, JANGAN SIRIK ya!!! Klo lo mau, bikin sendiri ya, isue apapun terserah… jangan kerjaannya gangguin hidup manusia lain… Lo belum kena batunya ya, fitnah sana sini, bohong sana sini, aku yakin orang seperti lo gak akan bisa maju, gak mungkin bisa kemana-mana “istilah dari bos gw utk orang sejenis lo”
Lebih baik do your best on your life… stop bothering Me!!! And I will say thanks…