Dream lover
Kemarin aku lagi liat harry potter. Di luar perkiraanku : filmnya tidak membuatku bilang wow, seperti saat harry potter edisi chamber of secret… apalagi di MPX audionya gak stabil dan pas ganti reel film sempat terlihat angka2 lalu mati sekejap, Oh my… akupun gak terlalu berempati dengan kematian prof dumbledore, juga kisah cinta diantara pemerannya yang remaja itu. moga aja ada kesempatan buat nonton GDD, King dan Inkheart.
Sebenarnya, gw baru nonton film harry potter dari 1-5 pinjam dvd dari james, lalu karena aku dah tahu jalan ceritanya jadinya pingin liat selanjutnya di bioskop dengan harapan bisa menikmati suasana menonton yang lebih nyaman dan audio yang bagus. Tapi ya sutera-lah 15.000 ditambah ongkos kopaja PP 4000, lumayan murah kan…
Pecinta mimpi? Ya, aku memang pemimpi. Klo aku pikir2 semua yang aku alami sekarang adalah hasil mimpi-mimpiku yang lalu. Mimpi2 yang menghiburku, bahwa ada esok yang lebih baik, hidup dengan kondisi layak dan nyaman.
Mengapa ya di hidup ini tercipta kelas-kelas sosial, argh…males banget ngomonginnya. baca sana sejarah perjuangan kelas, revolusi perancis lah, olala… yang pasti aku sudah mengusahakan diri untuk tidak terus berada di kelas bawah yg penuh dengan kesulitan, kekurangan dsb… ya dengan sekolah setidaknya mobilisasi ke kelas menengah, walaupun sebenarnya aku tidak menyukai adanya kelas-kelas sosial di dunia ini.
masih ingat ucapan temanku saat di joglo kampus, aku ceritain penolakan anak2 di kampungku saat kuajari komputer dari laptopq yg aku beli dari kerjaku di hk dulu, anak-anak itu gak ada yang mau datang, adikku yang ngajak mereka belajar di rumahku, tapi gak ada yang datang oh… mr j bilangkurang lebih gini : mereka tidak familiar dengan pentingnya pendidikan, dan sebelum kamu membuktikannya mereka pasti gak percaya.
Dan klo aku lihat, lajang perempuan yang paling tua di desaku adalah aku hahaha dengan pekerjaan yang jauh berbeda dengan orang2 di desaku walaupun orang tuaku hampir sama dengan teman2ku lainnya, mulai pendidikan hanya sebatas sekolah dasar, lalu jenis pekerjaan sama2 petani, lalu aku juga pernah jadi TKW seperti teman2ku lainnya…
alasannya mungkin bisa aku jelaskan : yang pertama, karena aku pernah sekolah di lingkungan dengan tradisi pemikiran yang lebih maju jadi aku terbiasa dengan budaya itu, mempertanyakan sesuatu yang membuatku tak enak walaupun aku bukanlah termasuk orang agresif yang main hantam secara frontal, aku lebih suka memikirkan strategi apa dan mendiskusikan dengan orang sekitarku yang kupercaya bisa ngasih masukan.
kedua, aku pernah tinggal dua tahun di luar negara indonesia, ya walaupun jadi migrant worker tapi yang membedakan adalah aku ikut keluarga dengan status ekonomi berkecukupan, berpendidikan tinggi dan ya agnostik lah… walaupun tak beragama tapi mereka cinta kebaikan dan menjunjung tinggi kemanusiaan, bisa dibayangkan bagaimana proses akulturasi itu terjadi padaku.
ketiga, aku kuliah di psikologi dan jalan hidupku menuntunku bertemu dengan beberapa orang yang kena gangguan jiwa, jadi aku lebih banyak prepare dengan segala konsekuensi yang mungkin dihadapi ketika menghadapi sejumlah pilihan-pilihan dalam hidup, ketemu dengan orang ini aku membayangkan hidup dengan si A yang seperti ini, kemungkinan besar nantinya akan seperti ini…
Itulah mungkin mengapa aku jadi seperti sekarang ini, mencintai pendidikan dan menjadi lajang paling tua di kampungku hahaha…
tapi, sekarang yang penting hepi…berangkat dulu lah ya ke layar tancep di pademangan, jaga jadi panitia…mau donk es krim gratis sambil nonton film…
masih memimpikan orang yang terindah membelikanq es krim, wahaha walopun bisa beli sendiri, tapi tetap aja senang klo dibelikan, mengharap mode on…
Oh ya lagi mikir rencana my 27 birthday…6 agustus, ke bali gak ada duit, mo nonton dvd film klasik yg aku beli bareng mb viv di hk kmrn, lom sempat nonton, terus berdoa yang panjang aja deh (rencana2 setahun kedepan, bisa shooting dan berkarya dengan baik…seandainya ada yang kasih kejutan: setidaknya doa yang tak disebutkan, sms dari orang yang terindah…