Mbah Kung-q
Kangen rasanya dengan Mbah Kakung, tapi aku lebih suka panggil Mbak Kung, kakekku. Dia bernama Wagiso… He’s like hero in mylife karena aku lebih banyak bicara dengannya daripada dengan orang tuaku.
Satu hal yang belum sempat kutanyakan padanya : mengapa dia yang waktu itu ikut menjadi pejuang, bertempur melawan Jepang tapi saat kemerdekaan dan pencatatan nama para pejuang, dia tidak mau daftar dan akhirnya tak menerima pensiun, padahal ada beberapa tetengga kami yang mnurut cerita hanya ikut2an di akhir tapi ikutan mendaftar. Aku tak sekritis utk berpikir kearah situ sampai akhirnya sekarang sudah terlambat karena tahun 2004 Mbah Kung meninggal karena kecelakaan.
Yang aku tahu, Mbah Kung itu pemberani, mungkin gen itulah yang kuwarisi darinya I’m brave girl, yg diusia 18 tahun berani melanglang buana untuk kerja, dengan tak ada jaminan keselamatan dari negara sekalipun…Yang sangat kuingat adalah ucapannya : jangan main ke diskotek, ingat ya!
Oh, jangan salah, Mbah Kung lebih moderen dari anak2nya sekalipun, dia punya massa politik, dia paham bahwa pendidikan penting(tapi syg tidak balance gender), dia juga kejawen, dia rajin membaca Al Quran dan gak malu bertanya padaku apakah udah benar tajwidnya, He is in my heart…
Dia sering menceritakan tentang perjalanan hidupnya, dan saat peperangan jepang, dia benar2 pake celana dari bago yang banyak kutunya, sulit makan bahkan dia makan daun-daun yang ditemui. Ah, separah itu ya perjuangan melawan kekuasaan jepang. jarang bisa tidur, Dia bisa baca dan tulis…tapi tak punya perpustakaan dan tak hobby menulis jadi ya lebih ke perjuangan fisik, tapi strategi dagangnya Dia jago banget banget! Gimana cara mendapatkan partner bisnis orang china, lalu dipercaya lalu jadi agen, lalu bisa membeli ini dan itu wow…satu hal yang benarnya keinginannya yang ingin aku wujudkan: cita-citanya ingin naik haji, oh ya I still haven’t enough money…
working again…editorq dah datang…